Selasa, 16 Rajab 1436 H / 5 Mei 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 07 | Termasuk Syirik Memakai Jimat
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله
Halaqoh yang ke-7 dari silsilah belajar tauhid, Termasuk Syirik Memakai Jimat
Saudaraku sekalian, Allāh Azza wa Jall adalah Dzat yang memberi manfaat dan mudhorot. Kalau Allāh menghendaki memberikan manfaat pada seseorang maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya, demikian pula sebaliknya ketika Allāh menghendaki untuk menimpakan musibah kepada seseorang maka tidak akan ada yang bisa menolaknya.
Keyakinan tersebut melazimkan kita sebagai seorang muslim untuk hanya bergantung kepada Allāh semata dan merasa cukup dengan Allāh dalam usaha mendapatkan manfaat dan menghindari mudhorot, seperti dalam mencari rejeki, mencari keselamatan, mencari kesembuhan dari penyakit dan lain-lain. Dan tidak bergantung sekali-kali kepada benda-benda yang dikeramatkan seperti jimat, wafak, susuk dan berbagai jenisnya
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
’’Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (yaitu jimat dan yang semisalnya) maka sungguh dia telah berbuat syirik". (HR Ahmad dan shahikan oleh Syaikh Albani)
Apabila meyakini bahwa barang tersebut adalah sebab (perantara) maka ini termasuk syirik kecil, karena dia telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, padahal yang berhak untuk menentukan sesuatu itu sebab atau tidak adalah Dzat yang menciptakan yaitu Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Kemudian apabila dia meyakini bahwa barang tersebut dengan sendirinya memberikan manfaat dan memberikan madharot maka ini termasuk syirik besar yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memudahkan kita dan saudara-sadara kita untuk meninggalkan perbuatan syirik yang sudah tersebar ini dan menjadikan ketergantungan hati kita dan mereka hanya kepada Allāh.
Hasbunallaah wa ni'mal wakiil.
Itulah halaqah yang ketujuh dan sampai bertemu kembali pada halaqah yang selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhukum Abdullah Roy
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
Selasa, 05 Mei 2015
Hadits ke-5 | Adab-Adab Bermajelis
Senin, 15 Rajab 1436 H / 4 Mei 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-5 | Adab-Adab Bermajelis
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
7⃣ Kita masuk pada halaqoh yang ke-7 tentang Baabul Adab.
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : "لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا." مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Hadits dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhuما beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Janganlah seseorang membedirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.
(Muttafaqun 'alaih), kata AlHafizh Ibnu Hajar hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, diantaranya adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis, diatur dalam Islam.
Dalam hadits ini diajarkan 2 adab kepada kita,
1⃣ Adab yang pertama, adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.
Orang tersebut jika datang terlambat di majelis maka hendaknya dia duduk dimana tempat dia berada, tempat dia dapat, ada tempat yang lapang yang kosong maka dia duduk disitu.
Jangan sampai dia kemudian masuk ke tengah-tengah majelis melewati pundak-pundak orang atau membedirikan seorang disuruh pergi kemudian dia menggantikan tempat duduk tersebut. Ini tidak diperbolehkan. Siapa pun orangnya, karena hal ini menunjukkan adanya keangkuhan dan Islam tidak menginginkan hal ini.
Islam mengajarkan tawadhu', kalau ada saudara kita yang sudah lebih dulu duduk ditempat tersebut maka bukan hak kita untuk membuat dia berdiri kemudian kita menggantikan posisinya duduk ditempat tersebut.
Jadi yang pertama berkaitan dengan adab yang datang orang yang terlambat datang dalam majelis.
2⃣ Adab yang kedua berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.
Maka yang dianjurkan kepada mereka untuk melapangkan majelis.
Bahkan Allah menyebutkan hal ini dalam AlQur'an, kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah majelis kalian, renggangkanlah majelis kalian maka renggangkanlah/lapangkanlah, niscaya Allah akan beri kelapangan pada kalian. (AlMujadilah 11)
Artinya kalau kita lihat saudara kita yang datang terlambat ingin masuk di majelis maka segera kita lapangkan dan berikan dia tempat agar dia bisa duduk menghadiri majelis kita bersama-sama.
Dan ini merupakan adab yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah datang terlebih dahulu.
Demikian juga jika ternyata orang yang terlambat datang tadi mengatakan: Yaa ikhwan tafassahu, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat, maka kita dengarkan ucapannya sebagaimana perintah Allah tadi idza qiila lakum, dikatakan kepada kalian lapangkanlah dan renggangkanlah maka lakukanlah, lapangkanlah maka niscaya Allah akan berikan kelapangan pada kalian.
Sungguh indah adab-adab Islam, mengajarkan bagaimana adab dalam bermajelis.
Para ulama juga menyebutkan majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan, oleh karenanya termasuk ke dalamnya adalah majelis dzikir misalnya, atau misalnya majelis ilmu, majelis pengajian misalnya atau misalnya majelis shalat Jum'at, orang-orang menunggu shalat Jum'at sementara majelis sudah full maka kalau masih ada tempat yang renggang maka hendaknya dia memberikan tempat pada saudaranya.
Ini menunjukkan saling cinta kasih diantara saudaranya, jadi ingin saudaranya juga menghadiri majelis kebaikan, dia tidak ingin menyakiti saudaranya, dia berikan waktu kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut, ini menunjukkan semuanya akan keindahan Islam.
Yang jadi pertanyaan misalnya, ada seseorang ustadz misalnya datang/hadir dalam majlis kemudian ada muridnya yang tidak enak sama ustadz tersebut kemudian berdiri mengatakan mempersilakan ustadz tadi untuk duduk. Maka apa yang dilakukan ustadz ini? Apakah dia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?
Min baabil wara', kalau kita wara', maka hendaknya kita tidak mengambil posisi murid kita tersebut meskipun dia dalam rangka untuk menghormati kita.
Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu. Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu kalau dia datang di majelis langsung karena sebagian orang menghormati dia, maka orang tersebut mempersilakan Ibnu 'Umar untuk menggantikan posisinya, namun Ibnu 'Umar pun tidak mau. Dia tidak mau, dia tawarru', dia tidak ingin mengambil hak orang lain padahal mereka karena menghormati Ibnu 'Umar.
Para ulama mengatakan demikianlah adab yang seharusnya kalau kita datang kemudian ada orang yang berdiri mempersilakan untuk mengambil posisinya maka kita tolak.
Kecuali khawatir kalau orang tersebut akan tersinggung misalnya atau karena orang tersebut sangat cinta kepada kita maka ini masalahnya lain, kita ingin memasukkan rasa senang pada dirinya maka tidak mengapa kita duduk kalau memang halnya sudah demikian. Akan tetapi kalau sekedar dia malu maka tidak boleh kita mengambil hak orang lain.
Demikianlah para ikhwan dan akhwat, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mudahkan kita untuk bisa menjalankan adab-adab Islami, adab-adab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sehingga kita bisa bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di surga kelak.
Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin.
Assalaamu'alaykum warahmatullaah wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-5 | Adab-Adab Bermajelis
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
7⃣ Kita masuk pada halaqoh yang ke-7 tentang Baabul Adab.
وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : "لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوْا وَتَوَسَّعُوْا." مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Hadits dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhuما beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Janganlah seseorang membedirikan saudaranya dari tempat duduknya kemudian dia gantikan posisi tempat duduk saudaranya tersebut, akan tetapi hendaknya mereka melapangkan dan merenggangkan.
(Muttafaqun 'alaih), kata AlHafizh Ibnu Hajar hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini kembali menjelaskan kepada kita tentang agungnya Islam. Bahwasanya Islam mengajarkan berbagai macam adab, diantaranya adab terhadap perkara-perkara yang dianggap sepele, seperti adab bermajelis, diatur dalam Islam.
Dalam hadits ini diajarkan 2 adab kepada kita,
1⃣ Adab yang pertama, adab yang berkaitan dengan orang yang datang terlambat di majelis.
Orang tersebut jika datang terlambat di majelis maka hendaknya dia duduk dimana tempat dia berada, tempat dia dapat, ada tempat yang lapang yang kosong maka dia duduk disitu.
Jangan sampai dia kemudian masuk ke tengah-tengah majelis melewati pundak-pundak orang atau membedirikan seorang disuruh pergi kemudian dia menggantikan tempat duduk tersebut. Ini tidak diperbolehkan. Siapa pun orangnya, karena hal ini menunjukkan adanya keangkuhan dan Islam tidak menginginkan hal ini.
Islam mengajarkan tawadhu', kalau ada saudara kita yang sudah lebih dulu duduk ditempat tersebut maka bukan hak kita untuk membuat dia berdiri kemudian kita menggantikan posisinya duduk ditempat tersebut.
Jadi yang pertama berkaitan dengan adab yang datang orang yang terlambat datang dalam majelis.
2⃣ Adab yang kedua berkaitan dengan orang-orang yang sudah terlanjur lebih dahulu duduk.
Maka yang dianjurkan kepada mereka untuk melapangkan majelis.
Bahkan Allah menyebutkan hal ini dalam AlQur'an, kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepada kalian lapangkanlah majelis kalian, renggangkanlah majelis kalian maka renggangkanlah/lapangkanlah, niscaya Allah akan beri kelapangan pada kalian. (AlMujadilah 11)
Artinya kalau kita lihat saudara kita yang datang terlambat ingin masuk di majelis maka segera kita lapangkan dan berikan dia tempat agar dia bisa duduk menghadiri majelis kita bersama-sama.
Dan ini merupakan adab yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah datang terlebih dahulu.
Demikian juga jika ternyata orang yang terlambat datang tadi mengatakan: Yaa ikhwan tafassahu, tolong berikan saya tempat, tolong berikan saya tempat, maka kita dengarkan ucapannya sebagaimana perintah Allah tadi idza qiila lakum, dikatakan kepada kalian lapangkanlah dan renggangkanlah maka lakukanlah, lapangkanlah maka niscaya Allah akan berikan kelapangan pada kalian.
Sungguh indah adab-adab Islam, mengajarkan bagaimana adab dalam bermajelis.
Para ulama juga menyebutkan majelis yang dimaksud dalam hadits ini adalah majelis umum yang berkaitan dengan kebaikan, oleh karenanya termasuk ke dalamnya adalah majelis dzikir misalnya, atau misalnya majelis ilmu, majelis pengajian misalnya atau misalnya majelis shalat Jum'at, orang-orang menunggu shalat Jum'at sementara majelis sudah full maka kalau masih ada tempat yang renggang maka hendaknya dia memberikan tempat pada saudaranya.
Ini menunjukkan saling cinta kasih diantara saudaranya, jadi ingin saudaranya juga menghadiri majelis kebaikan, dia tidak ingin menyakiti saudaranya, dia berikan waktu kesempatan kepada saudaranya untuk ikut dalam majelis tersebut, ini menunjukkan semuanya akan keindahan Islam.
Yang jadi pertanyaan misalnya, ada seseorang ustadz misalnya datang/hadir dalam majlis kemudian ada muridnya yang tidak enak sama ustadz tersebut kemudian berdiri mengatakan mempersilakan ustadz tadi untuk duduk. Maka apa yang dilakukan ustadz ini? Apakah dia duduk menggantikan tempat muridnya tersebut?
Min baabil wara', kalau kita wara', maka hendaknya kita tidak mengambil posisi murid kita tersebut meskipun dia dalam rangka untuk menghormati kita.
Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sahabat Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu. Ibnu 'Umar radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu kalau dia datang di majelis langsung karena sebagian orang menghormati dia, maka orang tersebut mempersilakan Ibnu 'Umar untuk menggantikan posisinya, namun Ibnu 'Umar pun tidak mau. Dia tidak mau, dia tawarru', dia tidak ingin mengambil hak orang lain padahal mereka karena menghormati Ibnu 'Umar.
Para ulama mengatakan demikianlah adab yang seharusnya kalau kita datang kemudian ada orang yang berdiri mempersilakan untuk mengambil posisinya maka kita tolak.
Kecuali khawatir kalau orang tersebut akan tersinggung misalnya atau karena orang tersebut sangat cinta kepada kita maka ini masalahnya lain, kita ingin memasukkan rasa senang pada dirinya maka tidak mengapa kita duduk kalau memang halnya sudah demikian. Akan tetapi kalau sekedar dia malu maka tidak boleh kita mengambil hak orang lain.
Demikianlah para ikhwan dan akhwat, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla mudahkan kita untuk bisa menjalankan adab-adab Islami, adab-adab Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, sehingga kita bisa bertemu dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam di surga kelak.
Aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin.
Assalaamu'alaykum warahmatullaah wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
KEUTAMAAN BULAN RAJAB
Sabtu, 13 Rajab 1436 H / 2 Mei 2015 M
Artikel Tematik
👤 Ustadz Badrusalam, LC
-------------------------
• KEUTAMAAN BULAN RAJAB •
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و على آله و صحبه و من واله
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده ورسوله
و قال الله تعالى في كتابه الكريم: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون, أم بعد.
Ayyuhal ikhwah a'āzaniyallāhu wa iyyakum, kita berada di bulan Rajab. Dan Rajab merupakan bulan yang haram, karena Allāh Subhānahu Wa Ta'āla menciptakan 1 tahun itu ada 12 bulan. Dan diantara 12 bulan itu ada 4 bulan haram.
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allāh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allāh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allāh beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah 36)
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla menyebutkan bahwa jumlah bulan ada 12 dan diantaranya ada 4 bulan yang haram, yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Kenapa disebut dengan bulan haram? Dan apa keistimewaan bulan haram yang termasuk padanya bulan Rajab?
Ketahuilah yā akhī, bahwa disebut dengan bulan haram karena bulan itu adalah bulan yang suci. Dan dahulu orang-orang Arab yang mensucikan bulan tersebut, terlebih kaum Mudhar yang sangat menghormati bulan Rajab karena menurut mereka bulan Rajab adalah bulan yang sangat mulia sekali. Makanya disebut dengan Rajab Mudhar.
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla dalam ayat ini mengatakan: "Janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut."
Padahal, berbuat zhalim di selain bulan tersebut diharamkan, akan tetapi Allāh MENGKHUSUSKAN larangan berbuat zhalim di bulan tersebut menunjukkan bahwa perbuatan zhalim dibulan haram itu dilipatgandakan dosanya oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Pada masa dahulu, orang-orang Arab jahiliyyah sangat menghormati bulan-bulan haram itu, mereka tidak melakukan peperangan & membunuh dibulan haram. Walaupun mereka jahiliyyah tetapi masih ada sisa-sisa agama Nabi Ibrāhīm.
Maka, bulan-bulan haram itu hendaknya kita berusaha untuk menghormatinya dengan cara menjauhi keharaman-keharaman dibulan tersebut karena bulan itu merupakan bulan suci, bulan yang hendaknya kita jauhi berbagai macam maksiat.
Dan dibulan tersebut, kemaksiatan & kezhaliman dilipatgandakan dosanya disisi Allāh Subhānahu Wa Ta'āla. Maka kita berkewajiban menghormati bulan-bulan haram ini.
Diantara keutamaan bulan Rajab adalah Syahrullāh, dan Sya'ban adalah Syahrī, dan Ramadhān adalah Syahri Ummatī...
Ketahuilah, para ulama mengatakan bahwa hadits ini adalah HADITS PALSU !
Ini adalah dusta terhadap Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Al-Hafizh Ibnu Hajar didalam kitab beliau menjelaskan bahwa semua hadits-hadits yang berhubungan yang menyebutkan keutamaan bulan Rajab, itu tidak lepas dari:
⑴ Hadits yang palsu
⑵ Hadits yang lemah
Tidak ada satupun yang shahīh KECUALI penyebutan bulan Rajab adalah bulan yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Maka dari itu, tidak ada amalan khusus dalam bulan Rajab, tidak ada sama sekali Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan umrah di bulan Rajab atau amalan tersendiri di bulan Rajab, tidak.
Akan tetapi bulan Rajab seperti bulan-bulan haram yang lainnya dimana amalan shalih dibulan-bulan itu dilipatgandakan, amalan burukpun dilipatgandakan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Maka kewajiban kita kaum mu'minin untuk menghormati bulan Rajab sebagaimana menghormati bulan-bulan haram yang lainnya.
Mudah-mudahan kita senantiasa termasuk orang-orang yang menjaga kesucian bulan Rajab dan bulan-bulan haram yang lainnya.
سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
Sumber: https://youtu.be/gmczAZQxbtQ
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan saran untuk Group Bimbingan Islam silahkan disampaikan kepada kami melalui:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Artikel Tematik
👤 Ustadz Badrusalam, LC
-------------------------
• KEUTAMAAN BULAN RAJAB •
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله نبينا محمد و على آله و صحبه و من واله
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمد عبده ورسوله
و قال الله تعالى في كتابه الكريم: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون, أم بعد.
Ayyuhal ikhwah a'āzaniyallāhu wa iyyakum, kita berada di bulan Rajab. Dan Rajab merupakan bulan yang haram, karena Allāh Subhānahu Wa Ta'āla menciptakan 1 tahun itu ada 12 bulan. Dan diantara 12 bulan itu ada 4 bulan haram.
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allāh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allāh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allāh beserta orang-orang yang bertakwa." (At-Taubah 36)
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla menyebutkan bahwa jumlah bulan ada 12 dan diantaranya ada 4 bulan yang haram, yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Kenapa disebut dengan bulan haram? Dan apa keistimewaan bulan haram yang termasuk padanya bulan Rajab?
Ketahuilah yā akhī, bahwa disebut dengan bulan haram karena bulan itu adalah bulan yang suci. Dan dahulu orang-orang Arab yang mensucikan bulan tersebut, terlebih kaum Mudhar yang sangat menghormati bulan Rajab karena menurut mereka bulan Rajab adalah bulan yang sangat mulia sekali. Makanya disebut dengan Rajab Mudhar.
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla dalam ayat ini mengatakan: "Janganlah kalian menzhalimi diri kalian pada bulan-bulan tersebut."
Padahal, berbuat zhalim di selain bulan tersebut diharamkan, akan tetapi Allāh MENGKHUSUSKAN larangan berbuat zhalim di bulan tersebut menunjukkan bahwa perbuatan zhalim dibulan haram itu dilipatgandakan dosanya oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Pada masa dahulu, orang-orang Arab jahiliyyah sangat menghormati bulan-bulan haram itu, mereka tidak melakukan peperangan & membunuh dibulan haram. Walaupun mereka jahiliyyah tetapi masih ada sisa-sisa agama Nabi Ibrāhīm.
Maka, bulan-bulan haram itu hendaknya kita berusaha untuk menghormatinya dengan cara menjauhi keharaman-keharaman dibulan tersebut karena bulan itu merupakan bulan suci, bulan yang hendaknya kita jauhi berbagai macam maksiat.
Dan dibulan tersebut, kemaksiatan & kezhaliman dilipatgandakan dosanya disisi Allāh Subhānahu Wa Ta'āla. Maka kita berkewajiban menghormati bulan-bulan haram ini.
Diantara keutamaan bulan Rajab adalah Syahrullāh, dan Sya'ban adalah Syahrī, dan Ramadhān adalah Syahri Ummatī...
Ketahuilah, para ulama mengatakan bahwa hadits ini adalah HADITS PALSU !
Ini adalah dusta terhadap Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Al-Hafizh Ibnu Hajar didalam kitab beliau menjelaskan bahwa semua hadits-hadits yang berhubungan yang menyebutkan keutamaan bulan Rajab, itu tidak lepas dari:
⑴ Hadits yang palsu
⑵ Hadits yang lemah
Tidak ada satupun yang shahīh KECUALI penyebutan bulan Rajab adalah bulan yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Maka dari itu, tidak ada amalan khusus dalam bulan Rajab, tidak ada sama sekali Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan umrah di bulan Rajab atau amalan tersendiri di bulan Rajab, tidak.
Akan tetapi bulan Rajab seperti bulan-bulan haram yang lainnya dimana amalan shalih dibulan-bulan itu dilipatgandakan, amalan burukpun dilipatgandakan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
Maka kewajiban kita kaum mu'minin untuk menghormati bulan Rajab sebagaimana menghormati bulan-bulan haram yang lainnya.
Mudah-mudahan kita senantiasa termasuk orang-orang yang menjaga kesucian bulan Rajab dan bulan-bulan haram yang lainnya.
سبحانك اللهم وبحمدك، أشهد أن لا إله إلا أنت، أستغفرك وأتوب إليك
Sumber: https://youtu.be/gmczAZQxbtQ
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan saran untuk Group Bimbingan Islam silahkan disampaikan kepada kami melalui:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
· SUMBER BAHAGIA DUNIA AKHIRAT ·
Sabtu, 13 Rajab 1436 H / 2 Mei 2015 M
Artikel Tematik | Motivasi Islam
👤 Ustadz Abdullāh Taslim, MA
-------------------------
· SUMBER BAHAGIA DUNIA AKHIRAT ·
Setiap orang ingin hidup bahagia...
Setiap manusia mendambakan kehidupannya penuh dengan kedamaian dan ketenangan dalam menjalani semua urusannya dalam kehidupan di dunia...
Tetapi...
Tahukah kita bahwa sebenarnya kebahagiaan kita itu dekat?
Hanya kita yang kurang memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman dalam Al-Qurān:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allāh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allāh-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd : 28)
Ketahuilah hanya dengan mengingat Allāh, menyebut namaNya, mempelajari petunjukNya dan mengamalkannya maka hati manusia akan menjadi tenang & jiwanya menjadi damai.
Dalam ayat lain Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman;
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَر أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِن فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاة طَيِّبَة وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang melakukan amalan shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sungguh Kami akan berikan untuknya KEHIDUPAN yang INDAH yang PENUH dengan KEBAHAGIAAN di dunia dan akhirat dan Kami akan memberikan balasan yang lebih baik baginya daripada apa yang dikerjakannya di dunia." (An-Nahl 97)
Subhānallāh...
AL-QURĀN ADALAH SUMBER KEBAHAGIAAN KITA.
Ta'at kepada Allāh, belajar petunjukNya dan mengamalkannya merupakan sumber kebahagiaan yang sangat dekat dalam kehidupan kita.
Tapi sayang....
Kita kurang memanfaatkannya.
Coba camkan perkataan imam ahli sunnah yang terkenal berikut ini...
Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh Ta'āla berkata:
إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخـــرة
"Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk surga di akhirat nanti."
Apakah arti surga dunia tersebut?
Surga dunia yang Beliau maksudkan adalah KENIKMATAN, KEBAHAGIAAN HIDUP, KETENANGAN JIWA & KEDAMAIAN HATI ketika seseorang belajar petunjuk Allāh, memahaminya dan mengamalkannya ke dalam kehidupannya.
Inilah yang disebut kenikmatan surga yang Beliau ungkapkan dengan istilah SURGA DUNIA.
Yang barangsiapa belum merasakannya di dunia, maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.
Berarti, kenikmatan yang akan didapatkan oleh manusia di sisi Allāh Subhānahu Wa Ta'āla disurgaNya nanti, tergantung dari kenikmatan yang dia rasakan sewaktu di dunia, yaitu ketika dia belajar petunjuk Allāh, belajar tentang keimanan, tauhid dan keyakinan kepada Allāh kemudian mengamalkannya dalam kehidupannya.
Semoga Allāh Subhānahu Wa Ta'āla mudahkan segala kebaikan untuk diri kita dan untuk seluruh kaum muslimin dengan taufiq dan karuniaNya.
الحمد لله رب العلمين
Sumber:
https://youtu.be/q01XBEhO-4s
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan saran untuk Group Bimbingan Islam silahkan disampaikan kepada kami melalui:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Artikel Tematik | Motivasi Islam
👤 Ustadz Abdullāh Taslim, MA
-------------------------
· SUMBER BAHAGIA DUNIA AKHIRAT ·
Setiap orang ingin hidup bahagia...
Setiap manusia mendambakan kehidupannya penuh dengan kedamaian dan ketenangan dalam menjalani semua urusannya dalam kehidupan di dunia...
Tetapi...
Tahukah kita bahwa sebenarnya kebahagiaan kita itu dekat?
Hanya kita yang kurang memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman dalam Al-Qurān:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allāh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allāh-lah hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd : 28)
Ketahuilah hanya dengan mengingat Allāh, menyebut namaNya, mempelajari petunjukNya dan mengamalkannya maka hati manusia akan menjadi tenang & jiwanya menjadi damai.
Dalam ayat lain Allāh Subhānahu Wa Ta'āla berfirman;
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَر أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِن فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاة طَيِّبَة وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang melakukan amalan shalih dari kalangan laki-laki dan perempuan dalam keadaan dia beriman, maka sungguh Kami akan berikan untuknya KEHIDUPAN yang INDAH yang PENUH dengan KEBAHAGIAAN di dunia dan akhirat dan Kami akan memberikan balasan yang lebih baik baginya daripada apa yang dikerjakannya di dunia." (An-Nahl 97)
Subhānallāh...
AL-QURĀN ADALAH SUMBER KEBAHAGIAAN KITA.
Ta'at kepada Allāh, belajar petunjukNya dan mengamalkannya merupakan sumber kebahagiaan yang sangat dekat dalam kehidupan kita.
Tapi sayang....
Kita kurang memanfaatkannya.
Coba camkan perkataan imam ahli sunnah yang terkenal berikut ini...
Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh Ta'āla berkata:
إن في الدنيا جنة من لم يدخلها لم يدخل جنة الآخـــرة
"Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk surga di akhirat nanti."
Apakah arti surga dunia tersebut?
Surga dunia yang Beliau maksudkan adalah KENIKMATAN, KEBAHAGIAAN HIDUP, KETENANGAN JIWA & KEDAMAIAN HATI ketika seseorang belajar petunjuk Allāh, memahaminya dan mengamalkannya ke dalam kehidupannya.
Inilah yang disebut kenikmatan surga yang Beliau ungkapkan dengan istilah SURGA DUNIA.
Yang barangsiapa belum merasakannya di dunia, maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.
Berarti, kenikmatan yang akan didapatkan oleh manusia di sisi Allāh Subhānahu Wa Ta'āla disurgaNya nanti, tergantung dari kenikmatan yang dia rasakan sewaktu di dunia, yaitu ketika dia belajar petunjuk Allāh, belajar tentang keimanan, tauhid dan keyakinan kepada Allāh kemudian mengamalkannya dalam kehidupannya.
Semoga Allāh Subhānahu Wa Ta'āla mudahkan segala kebaikan untuk diri kita dan untuk seluruh kaum muslimin dengan taufiq dan karuniaNya.
الحمد لله رب العلمين
Sumber:
https://youtu.be/q01XBEhO-4s
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan saran untuk Group Bimbingan Islam silahkan disampaikan kepada kami melalui:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Kajian 03 | Biografi Imam Syafi'i dan Imam Abu Syuja'
Jum'at, 12 Rajab 1436 / 1 Mei 2015
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 3
Kajian 03 | Biografi Imam Syafi'i dan Imam Abu Syuja'
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و بعد.
Para ikhwah sekalian, para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqoh yang ke-3 ini kita akan mengenal secara ringkas AsySyafi'i dan Imam Abu Syuja'.
Imam AsySyaafi'i beliau bernama Muhammad bin Idris bin Al'Abbas bin 'Utsman bin Syaafi' yang dikenal sebagai Imam AsySyaafi'i. Beliau lahir pada tahun 150 H. Pada tahun tersebut, meninggal Imam Abu Hanifah. Oleh karena itu, orang-orang pun mengatakan:
Mātal imam maulidal imam
Meninggal seorang imam digantikan kelahiran seorang imam yang lainnya.
Beliau adalah seorang imam yang masyhur dari kalangan kaum muslimin dan memiliki pendapat atau madzhab yang tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Imam Syafi'i lahir di Ghazza Palestina dalam keadaan yatim. Perhatian yang besar sang ibu kepada Imam Syafi'i akan pendidikan Imam Syafi'i menyebabkan ibu Imam Syafi'i memutuskan untuk berpindah ke kota Mekkah, yang mana pada saat itu kota Mekkah dipenuhi oleh para ulama di berbagai cabang ilmu.
Imam AsySyaafi'i mulai menuntut ilmu dengan menghafal AlQur'an. Beliau hafal AlQur'an pada saat umur beliau mencapai 7 tahun dan terus menuntut ilmu sehingga dapat menghafalkan Kitab Muwaththa' Imam Mālik pada umur beliau mencapai 10 tahun. Dan terus menuntut ilmu sampai beliau diperbolehkan untuk berfatwa dikatakan pada saat umur 15 tahun. Dikatakan pada riwayat yang lain pada saat umur 18 tahun. Dan beliau pun terus menuntut ilmu baik kepada Imam Mālik, maupun kepada ulama yang lainnya sehingga menguasai berbagai cabang ilmu di dalam agama.
Imam AsySyaafi'i rahimahullāhu beliau dikenal sebagai ulama yang tawadhu' yang sangat dermawan. Dan keluasan ilmu beliau, kecerdasan otak beliau menjadikan pendapat-pendapat beliau sebagai rujukan bagi kalangan ulama yang lainnya.
Imam AsySyaafi'i, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Diantara yang terkenal Al'Umm dan ArRisalah.
Dan Imam AsySyaafi'i beliau wafat pada tahun 204 H, dengan meninggalkan manfaat yang besar bagi kaum muslimin, rahimahullāhu, rahmatan waasi'ah.
Kemudian Imam Abu Syuja', beliau adalah Ahmad bin AlHusain bin Ahmad AlAsfahaniy, salah seorang ulama AsySyafi'iyyah yang terkenal. Dan beliau dikenal dengan panggilan AlQadhi Abu Syuja', alqadhi yaitu hakim, Abu Syuja'.
Beliau belajar fiqih AsySyaafi'i lebih dari 40 tahun di kota Bashrah. Dan Abu Syuja' lahir pada tahun 434 H, dikatakan tahun 533 H. Dan dikenal sebagai seorang ulama yang sangat dermawan, yang ahli ibadah, yang wara', yang shalih, yang memiliki ilmu yang luas dan sangat ta'at di dalam melaksanakan agama.
Imam Abu Syuja' diriwayatkan bahwasanya beliau memiliki umur yang sangat panjang, yaitu mencapai 160 tahun dan dengan kondisi yang sehat wal 'afiyat.
Tatkala beliau ditanya tentang rahasianya maka beliau mengatakan:
ما عصيت الله بعضو منها في الصغر، فحفظها الله في الكبر
Saya tidak pernah di waktu muda saya bermaksiat dengan Allāh walaupun dengan 1 anggota tubuh saya. Maka alhamdulillāh Allāh menjaganya di masa tua saya.
Beliau menulis matan Abu Syuja' karena permintaan orang-orang agar beliau meringkas (membuat ringkasan) tentang madzhab Syafi'i yang mudah dipelajari dan mudah untuk dihafalkan. Dan matan Abu Syuja' ini terus dipelajari sampai saat ini menunjukkan matan tersebut memiliki kelebihan dan kita berharap keikhlashan dari sang penulis sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan dia kekal, menjadikan dia terus dipelajari kaum muslimin.
Imam Abu Syuja' menjabat sebagai seorang qadhi, sebagai hakim. Namun di akhir hayatnya beliau sengaja berpindah ke Madinah dalam rangka untuk membaktikan diri melayani masjid Nabawi dengan membersihkannya, kemudian menggelar tikar dan melayani para jama'ah sampai akhir hayat beliau.
Demikianlah tentang kedua imam ini, secara ringkas rahimahumullāh rahmatan wāsi'ah.
Dan kita cukupkan halaqah yang ke-3.
وَصَلَّى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ والسلّم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 3
Kajian 03 | Biografi Imam Syafi'i dan Imam Abu Syuja'
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و بعد.
Para ikhwah sekalian, para sahabat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, pada halaqoh yang ke-3 ini kita akan mengenal secara ringkas AsySyafi'i dan Imam Abu Syuja'.
Imam AsySyaafi'i beliau bernama Muhammad bin Idris bin Al'Abbas bin 'Utsman bin Syaafi' yang dikenal sebagai Imam AsySyaafi'i. Beliau lahir pada tahun 150 H. Pada tahun tersebut, meninggal Imam Abu Hanifah. Oleh karena itu, orang-orang pun mengatakan:
Mātal imam maulidal imam
Meninggal seorang imam digantikan kelahiran seorang imam yang lainnya.
Beliau adalah seorang imam yang masyhur dari kalangan kaum muslimin dan memiliki pendapat atau madzhab yang tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Imam Syafi'i lahir di Ghazza Palestina dalam keadaan yatim. Perhatian yang besar sang ibu kepada Imam Syafi'i akan pendidikan Imam Syafi'i menyebabkan ibu Imam Syafi'i memutuskan untuk berpindah ke kota Mekkah, yang mana pada saat itu kota Mekkah dipenuhi oleh para ulama di berbagai cabang ilmu.
Imam AsySyaafi'i mulai menuntut ilmu dengan menghafal AlQur'an. Beliau hafal AlQur'an pada saat umur beliau mencapai 7 tahun dan terus menuntut ilmu sehingga dapat menghafalkan Kitab Muwaththa' Imam Mālik pada umur beliau mencapai 10 tahun. Dan terus menuntut ilmu sampai beliau diperbolehkan untuk berfatwa dikatakan pada saat umur 15 tahun. Dikatakan pada riwayat yang lain pada saat umur 18 tahun. Dan beliau pun terus menuntut ilmu baik kepada Imam Mālik, maupun kepada ulama yang lainnya sehingga menguasai berbagai cabang ilmu di dalam agama.
Imam AsySyaafi'i rahimahullāhu beliau dikenal sebagai ulama yang tawadhu' yang sangat dermawan. Dan keluasan ilmu beliau, kecerdasan otak beliau menjadikan pendapat-pendapat beliau sebagai rujukan bagi kalangan ulama yang lainnya.
Imam AsySyaafi'i, beliau memiliki karya yang sangat banyak. Diantara yang terkenal Al'Umm dan ArRisalah.
Dan Imam AsySyaafi'i beliau wafat pada tahun 204 H, dengan meninggalkan manfaat yang besar bagi kaum muslimin, rahimahullāhu, rahmatan waasi'ah.
Kemudian Imam Abu Syuja', beliau adalah Ahmad bin AlHusain bin Ahmad AlAsfahaniy, salah seorang ulama AsySyafi'iyyah yang terkenal. Dan beliau dikenal dengan panggilan AlQadhi Abu Syuja', alqadhi yaitu hakim, Abu Syuja'.
Beliau belajar fiqih AsySyaafi'i lebih dari 40 tahun di kota Bashrah. Dan Abu Syuja' lahir pada tahun 434 H, dikatakan tahun 533 H. Dan dikenal sebagai seorang ulama yang sangat dermawan, yang ahli ibadah, yang wara', yang shalih, yang memiliki ilmu yang luas dan sangat ta'at di dalam melaksanakan agama.
Imam Abu Syuja' diriwayatkan bahwasanya beliau memiliki umur yang sangat panjang, yaitu mencapai 160 tahun dan dengan kondisi yang sehat wal 'afiyat.
Tatkala beliau ditanya tentang rahasianya maka beliau mengatakan:
ما عصيت الله بعضو منها في الصغر، فحفظها الله في الكبر
Saya tidak pernah di waktu muda saya bermaksiat dengan Allāh walaupun dengan 1 anggota tubuh saya. Maka alhamdulillāh Allāh menjaganya di masa tua saya.
Beliau menulis matan Abu Syuja' karena permintaan orang-orang agar beliau meringkas (membuat ringkasan) tentang madzhab Syafi'i yang mudah dipelajari dan mudah untuk dihafalkan. Dan matan Abu Syuja' ini terus dipelajari sampai saat ini menunjukkan matan tersebut memiliki kelebihan dan kita berharap keikhlashan dari sang penulis sehingga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan dia kekal, menjadikan dia terus dipelajari kaum muslimin.
Imam Abu Syuja' menjabat sebagai seorang qadhi, sebagai hakim. Namun di akhir hayatnya beliau sengaja berpindah ke Madinah dalam rangka untuk membaktikan diri melayani masjid Nabawi dengan membersihkannya, kemudian menggelar tikar dan melayani para jama'ah sampai akhir hayat beliau.
Demikianlah tentang kedua imam ini, secara ringkas rahimahumullāh rahmatan wāsi'ah.
Dan kita cukupkan halaqah yang ke-3.
وَصَلَّى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ والسلّم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 06 | Pengertian Tauhid
Kamis, 11 Rajab 1436 H / 30 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 06 | Pengertian Tauhid
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang ke-6 dari silsilah belajar tauhid, Apa itu Tauhid?
Saudara sekalian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan pemahaman kepada kita semua.
Sebelum kita jauh melangkah di dalam silsilah ini, tentunya kita harus benar-benar memahami apa makna tauhid yang wajib kita pelajari dan kita amalkan.
Tauhid secara bahasa adalah mengEsakan. Adapun secara istilah maka tauhid adalah mengEsakan Allāh di dalam beribadah.
Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga dia meninggalkan peribadatan kepada selain Allāh, seperti berdo'a kepada selain Allāh, bernadzar untuk selain Allāh, menyembelih untuk selain Allāh dan lain-lain.
Apabila seseorang beribadah kepada Allāh dan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, siapapun dia, entah itu seorang nabi, malaikat atau yang lain maka inilah yang dinamakan dengan syirik yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻷَﺑِﻴﻪِ ﻭَﻗَﻮْﻣِﻪِ ﺇِﻧَّﻨِﻰ ﺑَﺮَﺁﺀٌ ﻣِّﻤَّﺄ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ {26}
ﺇِﻻَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻄَﺮَﻧِﻲ{27}........
’’Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang telah menciptakan aku'" (Az Zukhruf 26-27)
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﻳُﻌْﺒَﺪُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣَﺮُﻡَ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﺩَﻣُﻪُ ﻭَ ﺣِﺴَﺎﺑُﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻠﻪِ
’’Barangsiapa yang mengatakan ‘’lā ilāha illallāh’’ dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allāh maka haram hartanya dan darahnya (artinya tidak boleh diganggu) dan perhitungannya (hisabnya) adalah atas Allāh Subhānahu wa Ta'āla ‘’. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Oleh karena itu, rukun kalimat tauhid yaitu lā ilāha illallāh ada 2 :
① Nafi (pengingkaran)
Nafi pada kalimat ‘’lā ilāha’’ artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah, maksudnya adalah mengingkari tuhan–tuhan selain Allāh.
② Itsbat (penetapan)
Itsbat pada kalimat ‘’illallāh ’’artinya kecuali Allāh, maksudnya adalah menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.
Wallahul muwaffiq.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhukum Abdullah Roy
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 06 | Pengertian Tauhid
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang ke-6 dari silsilah belajar tauhid, Apa itu Tauhid?
Saudara sekalian, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla memberikan pemahaman kepada kita semua.
Sebelum kita jauh melangkah di dalam silsilah ini, tentunya kita harus benar-benar memahami apa makna tauhid yang wajib kita pelajari dan kita amalkan.
Tauhid secara bahasa adalah mengEsakan. Adapun secara istilah maka tauhid adalah mengEsakan Allāh di dalam beribadah.
Seseorang tidak dinamakan bertauhid sehingga dia meninggalkan peribadatan kepada selain Allāh, seperti berdo'a kepada selain Allāh, bernadzar untuk selain Allāh, menyembelih untuk selain Allāh dan lain-lain.
Apabila seseorang beribadah kepada Allāh dan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allāh, siapapun dia, entah itu seorang nabi, malaikat atau yang lain maka inilah yang dinamakan dengan syirik yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢُ ﻷَﺑِﻴﻪِ ﻭَﻗَﻮْﻣِﻪِ ﺇِﻧَّﻨِﻰ ﺑَﺮَﺁﺀٌ ﻣِّﻤَّﺄ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ {26}
ﺇِﻻَّ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓَﻄَﺮَﻧِﻲ{27}........
’’Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali Dzat yang telah menciptakan aku'" (Az Zukhruf 26-27)
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﻤَﺎ ﻳُﻌْﺒَﺪُ ﻣِﻦْ ﺩُﻭْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺣَﺮُﻡَ ﻣَﺎﻟُﻪُ ﻭَﺩَﻣُﻪُ ﻭَ ﺣِﺴَﺎﺑُﻪُ ﻋَﻠﻰَ ﺍﻟﻠﻪِ
’’Barangsiapa yang mengatakan ‘’lā ilāha illallāh’’ dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allāh maka haram hartanya dan darahnya (artinya tidak boleh diganggu) dan perhitungannya (hisabnya) adalah atas Allāh Subhānahu wa Ta'āla ‘’. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim)
Oleh karena itu, rukun kalimat tauhid yaitu lā ilāha illallāh ada 2 :
① Nafi (pengingkaran)
Nafi pada kalimat ‘’lā ilāha’’ artinya tidak ada Tuhan yang berhak disembah, maksudnya adalah mengingkari tuhan–tuhan selain Allāh.
② Itsbat (penetapan)
Itsbat pada kalimat ‘’illallāh ’’artinya kecuali Allāh, maksudnya adalah menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.
Wallahul muwaffiq.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhukum Abdullah Roy
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-4 | Larangan Berbisik Antara Dua Orang Ketika Sedang Bertiga
Rabu, 10 Rajab 1436 H / 29 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-4 | Larangan Berbisik Antara Dua Orang Ketika Sedang Bertiga
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan akhwat sekalian, kita lanjutkan pada halaqoh yang ke-6 dari Kitaabul Jaami' yaitu bab tentang adab.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ. (١)
(١) - صحيح. رواه البخاري (٦٢٩٠)، ومسلم (٢١٨٤)، وليس عند مسلم لفظ «ذلك».
Hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Jika kalian bertiga maka janganlah 2 orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dan lafalnya adalah terdapat dalam Shahih Muslim).
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini menunjukkan akan agungnya Islam. Bahwa Islam adalah agama yang sempurna mengatur segala hal sampai pada perkara-perkara yang mungkin dianggap sepele, seperti adab makan, adab minum, adab yang lain-lain termasuk diantaranya adab bergaul.
Disini lihat bagaimana Islam mengatur tatkala seorang sedang bertiga jangan sampai cuma 2 orang berkumpul kemudian berbicara berbisik-bisik sementara yang ketiga ditinggalkan.
Apa sebabnya? Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُه
Karena perbuatan ini bisa menjadikan orang yang ke-3 bersedih.
Timbul kesedihan dalam dirinya, kenapa dia tidak diajak ngobrol. Dan Islam memperhatikan hal ini, Islam tidak ingin seorang menyedihkan saudaranya.
Juga bisa timbul dalam dirinya suuzhan, persangkaan-persangkaan yang buruk, mungkin mereka ber-2 sedang ghibahi saya, sedang ngerumpiin saya atau sedang menjelek-jelekkan saya.
Timbul persangkaan-persangkaan yang syaithan terkadang mendiktekan kepada orang yang ke-3 tersebut.
Oleh karenanya, Allāh sebutkan dalam AlQur'an masalah ini. Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat AlMujaadalah ayat yang ke-10:
إِنَّمَا النَّجْوٰى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ...
Sesungguhnya najwa (bisik-bisik) dari syaithan untuk menjadikan orang-orang yang beriman bersedih.
Hal ini menyebabkan orang yang ke-3 bersedih. Oleh karenanya bagaimana solusinya?
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
ِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ
Sampai kalian bercampur dengan (berbaur dengan) manusia.
Kalau sudah bercampur dengan manusia, berkumpul dengan banyak orang maka tidak akan menimbulkan kesedihan bagi orang ke-3, 2 orang ini ngobrol, orang yang ke-3 juga bisa mencari teman ngobrol yang lain maka tidak jadi masalah.
Yang jadi masalah jika ada sekumpulan orang kemudian semuanya ngobrol bareng-bareng yang satu 1 tidak diajak.
Oleh karenanya meskipun lafalnya alhadits disebutkan "Jika kalian ber-3 kemudian 2 orang ngobrol dan 1 nya tidak diajak", maka ini mencakup jumlah yang lebih, kata para ulama.
Contohnya seperti ada 4 orang kemudian 3 orang ngobrol sendiri, kemudian yang 1 tidak diajak maka juga termasuk dalam hadits ini, ini dilarang karena bisa menimbulkan kesedihan bagi orang yang ke-4. Demikian juga kalau ada 5 orang, kemudian 4 orang ngobrol sendiri, yang ke-5 tidak diajak maka ini juga dilarang karena menyedihkan orang yang ke-5 dan seterusnya, yang ke-6, ke-7 dan selanjutnya. Karena 'illah (larangan), sebab larangan dari hadits ini adalah jangan sampai membuat sedih orang yang tidak diajak ngobrol tersebut. Jangan sampai timbul persangkaan-persangkaan yang buruk dalam diri orang tersebut.
Oleh karenanya para ulama menyebutkan, diantara bentuk najwa yang terlarang adalah jika ada 3 orang kemudian 2 orang ini ngobrol dengan bahasa yang tidak dipahami oleh orang ke-3, inipun dilarang. Mereka ber-2 ngobrol dengan bahasa, meskipun mereka ber-3 dalam kondisi tubuh bersamaan tetapi, artinya 2 orang tidak menepi, tidak, tetapi bareng-bareng ber-3, akan tetapi 2 orang ngobrol dengan bahasa yang tidak difahami orang ke-3, ini tidak diperbolehkan, kata para ulama, karena hukumnya sama, seakan-akan dia tidak diajak ngobrol.
Kalau diajak ngobrol, kenapa dengan bahasa yang tidak dia fahami? Akan membuat dia sedih, merasa dia tidak pantas atau merasa ada suatu rahasia berkaitan dengan dirinya atau lainnya, akan datang syaithan mendiktekan hal-hal yang buruk dalam dirinya.
Oleh karenanya lihatlah indahnya Islam. Hadits ini sebenarnya hanyalah sekedar sampel, sekedar hanya sebagai contoh, maksudnya jangan sampai seseorang menyedihkan saudaranya, jangan sampai, seorang harus berusaha menjaga perasaan saudaranya baik dia menyedihkan saudaranya dengan perkataannya tidak boleh.
Apalagi dengan perbuatannya, apalagi dengan sikapnya juga tidak boleh. Mungkin tidak ada ucapan yang buruk dikeluarkan dari mulutnya tapi dengan sikapnya menjadikan saudaranya sedih, inipun tidak boleh, lihat najwa dalam hadits ini tidak berkait dengan ucapan yang keluar, tapi sikap, sikap 2 orang yang berbisik-bisik berdua-dua, ini menyedihkan orang yang ke-3. Ini dilarang, apalagi kalau kesedihan tersebut timbul dengan perkataan, apalagi dengan perbuatan.
Dan juga hadits ini menunjukkan seseorang dituntut jangan sampai menimbulkan persangkaan-persangkaan yang buruk dalam saudaranya dan sahabatnya.
Demikian, wa billaahit taufiq wal hidayah.
Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan Saran silahkan disampaikan melalui :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-4 | Larangan Berbisik Antara Dua Orang Ketika Sedang Bertiga
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Ikhwan dan akhwat sekalian, kita lanjutkan pada halaqoh yang ke-6 dari Kitaabul Jaami' yaitu bab tentang adab.
وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً, فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ, حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ ». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ. (١)
(١) - صحيح. رواه البخاري (٦٢٩٠)، ومسلم (٢١٨٤)، وليس عند مسلم لفظ «ذلك».
Hadits dari Ibnu Mas'ud radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: Jika kalian bertiga maka janganlah 2 orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dan lafalnya adalah terdapat dalam Shahih Muslim).
Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini menunjukkan akan agungnya Islam. Bahwa Islam adalah agama yang sempurna mengatur segala hal sampai pada perkara-perkara yang mungkin dianggap sepele, seperti adab makan, adab minum, adab yang lain-lain termasuk diantaranya adab bergaul.
Disini lihat bagaimana Islam mengatur tatkala seorang sedang bertiga jangan sampai cuma 2 orang berkumpul kemudian berbicara berbisik-bisik sementara yang ketiga ditinggalkan.
Apa sebabnya? Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُه
Karena perbuatan ini bisa menjadikan orang yang ke-3 bersedih.
Timbul kesedihan dalam dirinya, kenapa dia tidak diajak ngobrol. Dan Islam memperhatikan hal ini, Islam tidak ingin seorang menyedihkan saudaranya.
Juga bisa timbul dalam dirinya suuzhan, persangkaan-persangkaan yang buruk, mungkin mereka ber-2 sedang ghibahi saya, sedang ngerumpiin saya atau sedang menjelek-jelekkan saya.
Timbul persangkaan-persangkaan yang syaithan terkadang mendiktekan kepada orang yang ke-3 tersebut.
Oleh karenanya, Allāh sebutkan dalam AlQur'an masalah ini. Kata Allāh Subhānahu wa Ta'āla dalam surat AlMujaadalah ayat yang ke-10:
إِنَّمَا النَّجْوٰى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا ...
Sesungguhnya najwa (bisik-bisik) dari syaithan untuk menjadikan orang-orang yang beriman bersedih.
Hal ini menyebabkan orang yang ke-3 bersedih. Oleh karenanya bagaimana solusinya?
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
ِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ
Sampai kalian bercampur dengan (berbaur dengan) manusia.
Kalau sudah bercampur dengan manusia, berkumpul dengan banyak orang maka tidak akan menimbulkan kesedihan bagi orang ke-3, 2 orang ini ngobrol, orang yang ke-3 juga bisa mencari teman ngobrol yang lain maka tidak jadi masalah.
Yang jadi masalah jika ada sekumpulan orang kemudian semuanya ngobrol bareng-bareng yang satu 1 tidak diajak.
Oleh karenanya meskipun lafalnya alhadits disebutkan "Jika kalian ber-3 kemudian 2 orang ngobrol dan 1 nya tidak diajak", maka ini mencakup jumlah yang lebih, kata para ulama.
Contohnya seperti ada 4 orang kemudian 3 orang ngobrol sendiri, kemudian yang 1 tidak diajak maka juga termasuk dalam hadits ini, ini dilarang karena bisa menimbulkan kesedihan bagi orang yang ke-4. Demikian juga kalau ada 5 orang, kemudian 4 orang ngobrol sendiri, yang ke-5 tidak diajak maka ini juga dilarang karena menyedihkan orang yang ke-5 dan seterusnya, yang ke-6, ke-7 dan selanjutnya. Karena 'illah (larangan), sebab larangan dari hadits ini adalah jangan sampai membuat sedih orang yang tidak diajak ngobrol tersebut. Jangan sampai timbul persangkaan-persangkaan yang buruk dalam diri orang tersebut.
Oleh karenanya para ulama menyebutkan, diantara bentuk najwa yang terlarang adalah jika ada 3 orang kemudian 2 orang ini ngobrol dengan bahasa yang tidak dipahami oleh orang ke-3, inipun dilarang. Mereka ber-2 ngobrol dengan bahasa, meskipun mereka ber-3 dalam kondisi tubuh bersamaan tetapi, artinya 2 orang tidak menepi, tidak, tetapi bareng-bareng ber-3, akan tetapi 2 orang ngobrol dengan bahasa yang tidak difahami orang ke-3, ini tidak diperbolehkan, kata para ulama, karena hukumnya sama, seakan-akan dia tidak diajak ngobrol.
Kalau diajak ngobrol, kenapa dengan bahasa yang tidak dia fahami? Akan membuat dia sedih, merasa dia tidak pantas atau merasa ada suatu rahasia berkaitan dengan dirinya atau lainnya, akan datang syaithan mendiktekan hal-hal yang buruk dalam dirinya.
Oleh karenanya lihatlah indahnya Islam. Hadits ini sebenarnya hanyalah sekedar sampel, sekedar hanya sebagai contoh, maksudnya jangan sampai seseorang menyedihkan saudaranya, jangan sampai, seorang harus berusaha menjaga perasaan saudaranya baik dia menyedihkan saudaranya dengan perkataannya tidak boleh.
Apalagi dengan perbuatannya, apalagi dengan sikapnya juga tidak boleh. Mungkin tidak ada ucapan yang buruk dikeluarkan dari mulutnya tapi dengan sikapnya menjadikan saudaranya sedih, inipun tidak boleh, lihat najwa dalam hadits ini tidak berkait dengan ucapan yang keluar, tapi sikap, sikap 2 orang yang berbisik-bisik berdua-dua, ini menyedihkan orang yang ke-3. Ini dilarang, apalagi kalau kesedihan tersebut timbul dengan perkataan, apalagi dengan perbuatan.
Dan juga hadits ini menunjukkan seseorang dituntut jangan sampai menimbulkan persangkaan-persangkaan yang buruk dalam saudaranya dan sahabatnya.
Demikian, wa billaahit taufiq wal hidayah.
Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Kritik dan Saran silahkan disampaikan melalui :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 05 | Taubat Dari Kesyirikan
Selasa, 9 Rajab 1436 H / 28 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 05 | Taubat Dari Kesyirikan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang kelima adalah taubat dari kesyirikan.
Orang yang berbuat syirik, saudara sekalian dan dia meninggal dunia tanpa bertaubat kepada Allāh, maka dosa syirik tersebut tidak akan diampuni. Namun apabila dia bertaubat sebelum dia meninggal, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan mengampuni dosanya, bagaimanapun besarnya dosa tersebut.
Taubat nasuha adalah taubat yang terpenuhi didalamnya 3 syarat:
Menyesal
Meninggalkan perbuatan tersebut
Bertekat kuat untuk tidak mengulangi lagi
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الله إِنَّ الله يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang telah malampaui batas terhadap diri sendiri (yaitu dengan berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS (AzZumar ayat 53)
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الله يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
Sesungguhnya Allāh menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan juga Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah).
Para sahabat nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak semuanya lahir dalam keadaan Islam, bahkan banyak diantara mereka yang masuk Islam ketika sudah besar. Dan sebelumnya bergelimang dengan kesyirikan. Supaya tidak terjerumus kembali ke dalam kesyirikan, maka seseorang harus mempelajari tauhid dan memahaminya dengan baik, mengetahui jenis-jenis kesyirikan, sehingga dia bisa menjauhi kesyirikan tersebut.
Itulah halaqah yang kelima dan sampai berjumpa kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhukum Abdullah Roy
__________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 05 | Taubat Dari Kesyirikan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بِسْمِ الله الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang kelima adalah taubat dari kesyirikan.
Orang yang berbuat syirik, saudara sekalian dan dia meninggal dunia tanpa bertaubat kepada Allāh, maka dosa syirik tersebut tidak akan diampuni. Namun apabila dia bertaubat sebelum dia meninggal, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan mengampuni dosanya, bagaimanapun besarnya dosa tersebut.
Taubat nasuha adalah taubat yang terpenuhi didalamnya 3 syarat:
Menyesal
Meninggalkan perbuatan tersebut
Bertekat kuat untuk tidak mengulangi lagi
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ الله إِنَّ الله يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang telah malampaui batas terhadap diri sendiri (yaitu dengan berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allāh. Sesungguhnya Allāh mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS (AzZumar ayat 53)
Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ الله يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
Sesungguhnya Allāh menerima taubat seorang hamba selama ruh belum sampai ke tenggorokan. (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan juga Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany rahimahullah).
Para sahabat nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tidak semuanya lahir dalam keadaan Islam, bahkan banyak diantara mereka yang masuk Islam ketika sudah besar. Dan sebelumnya bergelimang dengan kesyirikan. Supaya tidak terjerumus kembali ke dalam kesyirikan, maka seseorang harus mempelajari tauhid dan memahaminya dengan baik, mengetahui jenis-jenis kesyirikan, sehingga dia bisa menjauhi kesyirikan tersebut.
Itulah halaqah yang kelima dan sampai berjumpa kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhukum Abdullah Roy
__________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bag-2
Senin, 8 Rajab 1436 H / 27 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bag-2
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kita masuk pada halaqoh yang ke-5, masih bersama hadits
وَ عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ (أخرجه مسلم)
Dari sahabat Nawaas bin Sam'an radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu dia berkata:
Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang kebajikan dan tentang dosa. Kebajikan adalah akhlaq yang mulia. Dan dosa adalah apa yang membuat hatimu gelisah dan engkau tidak suka kalau orang-orang melihat apa yang engkau lakukan tersebut.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).
Telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya tentang makna albirru husnul khuluq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia).
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas potongan hadits yang ke-2 yaitu tentang dosa.
وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Dosa adalah apa yang menggelisahkan engkau dihatimu. Dan engkau tidak suka jika orang-orang melihat kau melakukannya.
Hadits ini menjelaskan tentang barometer untuk mengenal dosa. Tentunya dosa-dosa adalah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Untuk mengenal dosa, kita bisa melihat dengan mempelajari AlQuran dan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, apa yang dilarang oleh Allah dalam AlQur'an maka itu adalah dosa. Apa yang dilarang oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits-haditsnya maka itu adalah dosa.
Namun terkadang ada perkara yang kita lakukan yang kita tidak sempat untuk melihat dalilnya, tidak sempat untuk mengecek dalilnya atau kita tidak tahu dalilnya. Tetapi tatkala kita hendak melakukannya muncul kegelisahan dalam dada kita, muncul tidak ketenangan dalam hati kita tatkala kita hendak melakukannya, ingatlah ini merupakan ciri dosa.
Karena dalam hadits ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyebutkan barometer dan indikator untuk mengenal dosa, beliau menyebutkan 2 ciri, yaitu :
1⃣ Yaitu menjadikan dadamu gelisah.
2⃣ Engkau tidak suka untuk dilihat oleh orang lain.
Kalau anda melakukan suatu perkara kemudian anda merasa tenang, hati tidak merasa gelisah, kalau orang lain tahu pun tidak jadi mengapa maka ini bukan dosa.
Tapi tatkala anda melakukan sesuatu, kemudian ternyata hati anda gelisah atau tidak tenang kemudian yang ke-2 tidak ingin orang lain tahu, tidak ingin tetangga tahu, tidak ingin sahabat tahu, tidak ingin istri tahu, tidak ingin ustadz kita tahu, maka ini merupakan ciri dosa maka berhati-hatilah. Dan sebaiknya kita meninggalkan perkara yang menimbulkan ketidaktenangan tersebut.
Namun ingat kata para ulama, hadits ini (sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini) berkaitan dengan orang yang hatinya masih sesuai fitrah, bukan orang-orang yang melakukan kemaksiatan yang fitrahnya sudah rusak, yang membanggakan kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan, tidak punya malu, ini tentu tidak berlaku bagi mereka, hadits ini.
Seperti orang-orang yang memamerkan aurat mereka, orang-orang yang minum khamr dihadapan banyak orang, orang-orang yang bangga dengan kejahatan-kejahatan yang mereka laukan, maksiat-maksiat yang mereka lakukan, orang-orang yang terkadang menshooting diri mereka tatkala mereka sedang bermaksiat, sedang berzina lalu mereka sebarkan di dunia-dunia maya. Ini semua tidak berlaku bagi mereka disini karena fitrah mereka telah rusak, adapun hadits ini berlaku untuk orang yang masih punya rasa malu, yang fitrahnya masih baik, maka untuk mengenal dosa atau tidak, maka dia memiliki 2 ciri, 2 indikator:
1⃣ Hatinya tidak tenang
2⃣ Dia tidak suka kalau ada orang yang melihatnya
Oleh karenanya ikhwan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa dosa itu pasti mendatangkan kegelisahan.
Sebagaimana penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullāhu Ta'āla: Barang siapa yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla pasti dia gelisah, pasti dia tidak tenang. Sebagaimana kalau orang yang mengingat Allah :
ِ ۗأَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ketahuilah dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang. (ArRa'du:28)
Maka kebalikannya, kalau lupa kepada Allah, maksiat kepada Allah maka pasti mendatangkan kegelisahan, pasti mendatangkan gundah gulana, hatinya tidak tenang, hatinya tidak tentram sampai dia bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari segala dosa dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tawwābīn, yaitu jika kita berdosa segera kita bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikianlah, wabillaahit taufiq wal hidayah
Sampai bertemu pada halaqoh berikutnya.
Assalaamu'alaykum 'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
Dari Firanda, rekamannya di Mekkah.
__________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bag-2
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Kita masuk pada halaqoh yang ke-5, masih bersama hadits
وَ عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ (أخرجه مسلم)
Dari sahabat Nawaas bin Sam'an radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu dia berkata:
Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang kebajikan dan tentang dosa. Kebajikan adalah akhlaq yang mulia. Dan dosa adalah apa yang membuat hatimu gelisah dan engkau tidak suka kalau orang-orang melihat apa yang engkau lakukan tersebut.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya).
Telah kita bahas pada pertemuan sebelumnya tentang makna albirru husnul khuluq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia).
Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas potongan hadits yang ke-2 yaitu tentang dosa.
وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Dosa adalah apa yang menggelisahkan engkau dihatimu. Dan engkau tidak suka jika orang-orang melihat kau melakukannya.
Hadits ini menjelaskan tentang barometer untuk mengenal dosa. Tentunya dosa-dosa adalah melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Untuk mengenal dosa, kita bisa melihat dengan mempelajari AlQuran dan sunnah-sunnah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam, apa yang dilarang oleh Allah dalam AlQur'an maka itu adalah dosa. Apa yang dilarang oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dalam hadits-haditsnya maka itu adalah dosa.
Namun terkadang ada perkara yang kita lakukan yang kita tidak sempat untuk melihat dalilnya, tidak sempat untuk mengecek dalilnya atau kita tidak tahu dalilnya. Tetapi tatkala kita hendak melakukannya muncul kegelisahan dalam dada kita, muncul tidak ketenangan dalam hati kita tatkala kita hendak melakukannya, ingatlah ini merupakan ciri dosa.
Karena dalam hadits ini Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam telah menyebutkan barometer dan indikator untuk mengenal dosa, beliau menyebutkan 2 ciri, yaitu :
1⃣ Yaitu menjadikan dadamu gelisah.
2⃣ Engkau tidak suka untuk dilihat oleh orang lain.
Kalau anda melakukan suatu perkara kemudian anda merasa tenang, hati tidak merasa gelisah, kalau orang lain tahu pun tidak jadi mengapa maka ini bukan dosa.
Tapi tatkala anda melakukan sesuatu, kemudian ternyata hati anda gelisah atau tidak tenang kemudian yang ke-2 tidak ingin orang lain tahu, tidak ingin tetangga tahu, tidak ingin sahabat tahu, tidak ingin istri tahu, tidak ingin ustadz kita tahu, maka ini merupakan ciri dosa maka berhati-hatilah. Dan sebaiknya kita meninggalkan perkara yang menimbulkan ketidaktenangan tersebut.
Namun ingat kata para ulama, hadits ini (sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini) berkaitan dengan orang yang hatinya masih sesuai fitrah, bukan orang-orang yang melakukan kemaksiatan yang fitrahnya sudah rusak, yang membanggakan kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan, tidak punya malu, ini tentu tidak berlaku bagi mereka, hadits ini.
Seperti orang-orang yang memamerkan aurat mereka, orang-orang yang minum khamr dihadapan banyak orang, orang-orang yang bangga dengan kejahatan-kejahatan yang mereka laukan, maksiat-maksiat yang mereka lakukan, orang-orang yang terkadang menshooting diri mereka tatkala mereka sedang bermaksiat, sedang berzina lalu mereka sebarkan di dunia-dunia maya. Ini semua tidak berlaku bagi mereka disini karena fitrah mereka telah rusak, adapun hadits ini berlaku untuk orang yang masih punya rasa malu, yang fitrahnya masih baik, maka untuk mengenal dosa atau tidak, maka dia memiliki 2 ciri, 2 indikator:
1⃣ Hatinya tidak tenang
2⃣ Dia tidak suka kalau ada orang yang melihatnya
Oleh karenanya ikhwan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla sebagian ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa dosa itu pasti mendatangkan kegelisahan.
Sebagaimana penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullāhu Ta'āla: Barang siapa yang bermaksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla pasti dia gelisah, pasti dia tidak tenang. Sebagaimana kalau orang yang mengingat Allah :
ِ ۗأَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ketahuilah dengan mengingat Allah maka hati menjadi tenang. (ArRa'du:28)
Maka kebalikannya, kalau lupa kepada Allah, maksiat kepada Allah maka pasti mendatangkan kegelisahan, pasti mendatangkan gundah gulana, hatinya tidak tenang, hatinya tidak tentram sampai dia bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari segala dosa dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tawwābīn, yaitu jika kita berdosa segera kita bertaubat kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikianlah, wabillaahit taufiq wal hidayah
Sampai bertemu pada halaqoh berikutnya.
Assalaamu'alaykum 'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
Dari Firanda, rekamannya di Mekkah.
__________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Bila Benar Aku Mencintaimu ....
📆 Sabtu, 6 Rajab 1436 H / 25 April 2015
Artikel Tematik
〰〰〰〰〰
Bila Benar Aku Mencintaimu ....
Dalam sebuah majelis, Syekh Nashiruddin Al-Albani rahimahuLLah, pernah ditanya: "Syekh, apakah seseorang yang mencintai karena ALLah, wajib mengatakan kepada orang yang dicintainya: "Aku mencintaimu karena ALLah?"
Syekh Albani menjawab: "Iya. Akan tetapi cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat tinggi, sedikit sekali yang mampu membayarnya. Apakah kalian mengetahui berapa harga cinta karena ALLah? Siapa yang mengetahui, silakan menjawab."
Mulailah para hadirin memberikan jawaban.
Seseorang menjawab: "RasuluLLah shallaLLahu 'alaYhi wa sallam bersabda: "7 golongan yang ALLah menaunginya dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya dua orang yang saling mencintai karena ALLah, bersatu karena ALLah dan berpisah karena-Nya."
Syekh berkata : "Ini adalah perkataan yang benar pada tempatnya, tapi bukan jawaban dari pertanyaanku. Ini adalah sebagian pengertian cinta karena ALLah. Adapun pertanyaanku, apakah harga yang harus dibayar oleh dua orang yang saling mencintai karena ALLah, yang satu kepada yang lain? Bukan apakah balasan akhiratnya? Maksudku, aku ingin menanyakan: Apakah bukti perbuatan bila seseorang mencintai karena ALLah? Karena kadang-kadang, dua orang saling mencintai, tetapi cintanya hanya tampak di luar, tidak benar-benar hakiki. Maka, apakah bukti cinta yang hakiki?"
Seseorang yang hadir menjawab lagi: "Seseorang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya."
Syekh Albani berkata: "Ini adalah sifat cinta atau salah satu sifat cinta."
Seseorang menjawab lagi: "Firman ALLah Ta'ala:
(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)
"(Artinya) Katakanlah: apabila kalian mencintai ALLah maka ikutilah aku, maka ALLah akan mencintai kalian." (QS. Ali Imran: 31)
Syekh menjawab: "Ini adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan yang lain."
Hadirin yang lain mencoba menjawab: "Tiga hal, yang apabila terdapat pada diri seseorang ia akan merasakan kelezatan iman, salah satunya orang yang mencintai karena ALLah."
Syeikh menjawab: "Itu adalah buah dari cinta karena ALLah, yaitu kelezatan iman dalam hati seseorang."
Seseorang menimpali lagi: "Firman ALLah Taala:
(ِوَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
"(Artinya) Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3)
Kali ini syekh menjawab: "Ahsanta. Benar, inilah jawabannya."
Saudaraku, mari kita renungkan perkara yang agung ini. Harga sebuah cinta karena ALLah. Siapa di antara kita yang tidak mencintai orang lain? Tentu tidak ada. Setidaknya, kita pasti mencintai pasangan kita, atau anak-anak kita, atau orang tua kita, atau saudara kita. Maka apakah bukti cinta kita pada mereka?
Ternyata buktinya adalah kita menasehatinya kepada kebenaran. Terkadang mudah bagi kita memberikan segala sesuatu yang kita cintai baik berupa harta, waktu, maupun perhatian untuk orang yang kita cintai. Akan tetapi, ketika kita melihatnya melakukan kesalahan, kita diam saja, dengan alasan segan, karena dia memiliki ilmu yang lebih dari kita, atau karena takut ia menjadi marah, takut ia memutuskan hubungan, atau takut ia menjauh, dan sebagainya. Kita merasa takut kehilangannya dengan membiarkannya terjatuh pada kesalahan. Ah, ternyata bukanlah itu bukti cinta yang hakiki.
Mari kita perhatikan perkataan Syeikh selanjutnya..
"Maka, apabila benar aku mencintaimu karena ALLah, selayaknya aku memberimu nasihat, demikian juga engkau menerima nasehatku dan memberiku nasehat. Cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat mahal. Cinta karena ALLah adalah bagian dari keikhlasan, yaitu mengikhlaskan segalanya untuk kebaikan orang yang kita cintai, dengan memberikan nasehat. Dengan senantiasa menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.. selalu dan selamanya."
✒ Ustadzah Liz Ummu Sholih
Di Kota Madinah
______________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Syariah Mandiri
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
💬 Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Artikel Tematik
〰〰〰〰〰
Bila Benar Aku Mencintaimu ....
Dalam sebuah majelis, Syekh Nashiruddin Al-Albani rahimahuLLah, pernah ditanya: "Syekh, apakah seseorang yang mencintai karena ALLah, wajib mengatakan kepada orang yang dicintainya: "Aku mencintaimu karena ALLah?"
Syekh Albani menjawab: "Iya. Akan tetapi cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat tinggi, sedikit sekali yang mampu membayarnya. Apakah kalian mengetahui berapa harga cinta karena ALLah? Siapa yang mengetahui, silakan menjawab."
Mulailah para hadirin memberikan jawaban.
Seseorang menjawab: "RasuluLLah shallaLLahu 'alaYhi wa sallam bersabda: "7 golongan yang ALLah menaunginya dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, salah satunya dua orang yang saling mencintai karena ALLah, bersatu karena ALLah dan berpisah karena-Nya."
Syekh berkata : "Ini adalah perkataan yang benar pada tempatnya, tapi bukan jawaban dari pertanyaanku. Ini adalah sebagian pengertian cinta karena ALLah. Adapun pertanyaanku, apakah harga yang harus dibayar oleh dua orang yang saling mencintai karena ALLah, yang satu kepada yang lain? Bukan apakah balasan akhiratnya? Maksudku, aku ingin menanyakan: Apakah bukti perbuatan bila seseorang mencintai karena ALLah? Karena kadang-kadang, dua orang saling mencintai, tetapi cintanya hanya tampak di luar, tidak benar-benar hakiki. Maka, apakah bukti cinta yang hakiki?"
Seseorang yang hadir menjawab lagi: "Seseorang mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya."
Syekh Albani berkata: "Ini adalah sifat cinta atau salah satu sifat cinta."
Seseorang menjawab lagi: "Firman ALLah Ta'ala:
(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ)
"(Artinya) Katakanlah: apabila kalian mencintai ALLah maka ikutilah aku, maka ALLah akan mencintai kalian." (QS. Ali Imran: 31)
Syekh menjawab: "Ini adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan yang lain."
Hadirin yang lain mencoba menjawab: "Tiga hal, yang apabila terdapat pada diri seseorang ia akan merasakan kelezatan iman, salah satunya orang yang mencintai karena ALLah."
Syeikh menjawab: "Itu adalah buah dari cinta karena ALLah, yaitu kelezatan iman dalam hati seseorang."
Seseorang menimpali lagi: "Firman ALLah Taala:
(ِوَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
"(Artinya) Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran." (QS. Al-Ashr: 1-3)
Kali ini syekh menjawab: "Ahsanta. Benar, inilah jawabannya."
Saudaraku, mari kita renungkan perkara yang agung ini. Harga sebuah cinta karena ALLah. Siapa di antara kita yang tidak mencintai orang lain? Tentu tidak ada. Setidaknya, kita pasti mencintai pasangan kita, atau anak-anak kita, atau orang tua kita, atau saudara kita. Maka apakah bukti cinta kita pada mereka?
Ternyata buktinya adalah kita menasehatinya kepada kebenaran. Terkadang mudah bagi kita memberikan segala sesuatu yang kita cintai baik berupa harta, waktu, maupun perhatian untuk orang yang kita cintai. Akan tetapi, ketika kita melihatnya melakukan kesalahan, kita diam saja, dengan alasan segan, karena dia memiliki ilmu yang lebih dari kita, atau karena takut ia menjadi marah, takut ia memutuskan hubungan, atau takut ia menjauh, dan sebagainya. Kita merasa takut kehilangannya dengan membiarkannya terjatuh pada kesalahan. Ah, ternyata bukanlah itu bukti cinta yang hakiki.
Mari kita perhatikan perkataan Syeikh selanjutnya..
"Maka, apabila benar aku mencintaimu karena ALLah, selayaknya aku memberimu nasihat, demikian juga engkau menerima nasehatku dan memberiku nasehat. Cinta karena ALLah memiliki harga yang sangat mahal. Cinta karena ALLah adalah bagian dari keikhlasan, yaitu mengikhlaskan segalanya untuk kebaikan orang yang kita cintai, dengan memberikan nasehat. Dengan senantiasa menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.. selalu dan selamanya."
✒ Ustadzah Liz Ummu Sholih
Di Kota Madinah
______________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Syariah Mandiri
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
💬 Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Kajian 02 | Pentingnya Kita Belajar Agama
Jum'at, 5 Rajab 1436 / 24 April 2015
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 2
Kajian 02 | Pentingnya Kita Belajar Agama
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و بعد.
Ikhwah fiddin a'āzaniyyallāhu wa iyyakum, pada halaqoh ke-2 ini, di dalam muqaddimah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai pelajaran kita tentang ringkasan Fiqih Syar'iyyah Matan Abū Syujā'.
1⃣ Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah dan bagian dari jihad fī sabīlillāh.
Allāh Ta'āla berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk memurnikan keta'atan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (Al-Bayyinah:5)
Dan niatkan kita menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita dan juga kita berusaha mengangkat kebodohan yang ada pada diri orang lain, agar kita semua dan mereka bisa memahami apa yang diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan RasulNya.
2⃣ Hendaknya bersabar di dalam menuntut ilmu dan tidak tergesa-gesa. Hendaknya bertahap, mulai dari tahap yang dasar, kemudian menengah dan dilanjutkan dalam tahap berikutnya.
Diantara tahap dasar bagi seseorang adalah dia menuntut ilmu, mengetahui perkara-perkara yang mendasar yang wajib 'ain bagi dirinya.
Dan diantara tahap awal dalam masalah cabang ilmu fiqih adalah memulai memahami gambaran permasalahan secara ringkas sebelum mendalami atau menyibukkan diri dalam permasalahan-permasalahan yang mendetail, perbedaan para ulama, dalil-dalil mereka dan seterusnya.
Allāh Ta'āla berfirman :
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ
"Dan jadilah kalian seorang yang Rabbani." (Ali Imran:79)
Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu, beliau mengatakan tentang ulama Rabbani, mereka adalah
أَنَّهُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ.
"Mereka adalah orang-orang yang mengajarkan manusia perkara-perkara yang mendasar sebelum perkara-perkara yang lanjut."
Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan apabila kita menyibukkan diri kita atau menyibukkan orang lain pada perkara-perkara khilaf diantara para ulama.
Padahal kita sendiri atau orang lain belum mengetahui perkara yang mendasar yang wajib untuk diketahui.
3⃣ Para ulama, baik yang terdahulu maupun yang terkini, mereka senantiasa mengajarkan kitab-kitab fiqih secara bertahap.
Mulai dari tahap yang dasar, menengah kemudian lanjut. Sebagaimana para ulama terdahulu, mereka menulis kitab-kitab dari dasar, seperti Imam Nawawi rahimahullāhu Ta'āla,
Beliau menulis Kitab Al-Minhaj yang merupakan ringkasan fiqih Asy-Syāfi'i.
Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Ar-Raudhah yang lebih panjang penjelasannya.
Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Majmu' yang merupakan disana dijelaskan tentang perbedaan pendapat para ulama, dalil-dalil dan diskusi diantara mereka.
Begitu juga Ibnu Qudāmah Al-Hambali, Beliau menulis kitab dasar Kitab Umdatul Fiqh. Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Kāfi, kemudian dilanjutkan kitab-kitab panjang yaitu Kitab Al-Mughni sebagaimana yang kita ketahui.
4⃣ Dalam mempelajari kitab Madzhab Syāfi'i ini, bukan berarti kita fanatik terhadap Madzhab Syāfi'i ataupun kita taqlid. Karena sesungguhnya, semua perkataan selain dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bisa diterima ataupun ditolak.
Oleh karena itu para ulama, baik terdahulu maupun terkini, bahkan Imam Syāfi'i sendiri, beliau mengatakan :
إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثِ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
"Apabila hadits itu shahih maka itu pendapatku."
Oleh karena itu, hendaknya penuntut ilmu berpegang kepada Al-Kitab dan Sunnah di dalam berpendapat.
5⃣ Dalam mempelajari matan Abu Syujā' yang merupakan ringkasan fiqih Syāfi'i ini, akan kami jelaskan secara ringkas saja dan lebih fokus kepada bagaimana masalah-masalah yang dibahas oleh para ulama atau gambaran masalah yang dibahas oleh para ulama, bukan pada khilaf ataupun perbedaan pendapat diantara mereka.
Dan akan kami jelaskan secara ringkas dalil-dalil apabila nanti dibutuhkan.
6⃣ Pada pembahasan kitab fiqih ini tentu akan memakan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu jika ada kesempatan mendatang, kita bisa selesaikan pada kajian intensif, baik secara offline maupun online. Maka akan kami sampaikan linknya kepada para ikhwah sekalian agar faidahnya bisa lebih menyeluruh.
Demikian yang bisa kami sampaikan pada halaqoh yang ke-2.
وَصَلَّى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ والسلّم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 2
Kajian 02 | Pentingnya Kita Belajar Agama
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و بعد.
Ikhwah fiddin a'āzaniyyallāhu wa iyyakum, pada halaqoh ke-2 ini, di dalam muqaddimah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai pelajaran kita tentang ringkasan Fiqih Syar'iyyah Matan Abū Syujā'.
1⃣ Wajib bagi para penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla, karena menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah dan bagian dari jihad fī sabīlillāh.
Allāh Ta'āla berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk memurnikan keta'atan hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla." (Al-Bayyinah:5)
Dan niatkan kita menuntut ilmu adalah untuk menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita dan juga kita berusaha mengangkat kebodohan yang ada pada diri orang lain, agar kita semua dan mereka bisa memahami apa yang diridhai oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan RasulNya.
2⃣ Hendaknya bersabar di dalam menuntut ilmu dan tidak tergesa-gesa. Hendaknya bertahap, mulai dari tahap yang dasar, kemudian menengah dan dilanjutkan dalam tahap berikutnya.
Diantara tahap dasar bagi seseorang adalah dia menuntut ilmu, mengetahui perkara-perkara yang mendasar yang wajib 'ain bagi dirinya.
Dan diantara tahap awal dalam masalah cabang ilmu fiqih adalah memulai memahami gambaran permasalahan secara ringkas sebelum mendalami atau menyibukkan diri dalam permasalahan-permasalahan yang mendetail, perbedaan para ulama, dalil-dalil mereka dan seterusnya.
Allāh Ta'āla berfirman :
كُونُوا رَبَّانِيِّينَ
"Dan jadilah kalian seorang yang Rabbani." (Ali Imran:79)
Ibnu 'Abbās radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu, beliau mengatakan tentang ulama Rabbani, mereka adalah
أَنَّهُ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ بِصِغَارِ الْعِلْمِ قَبْلَ كِبَارِهِ.
"Mereka adalah orang-orang yang mengajarkan manusia perkara-perkara yang mendasar sebelum perkara-perkara yang lanjut."
Oleh karena itu, adalah sebuah kesalahan apabila kita menyibukkan diri kita atau menyibukkan orang lain pada perkara-perkara khilaf diantara para ulama.
Padahal kita sendiri atau orang lain belum mengetahui perkara yang mendasar yang wajib untuk diketahui.
3⃣ Para ulama, baik yang terdahulu maupun yang terkini, mereka senantiasa mengajarkan kitab-kitab fiqih secara bertahap.
Mulai dari tahap yang dasar, menengah kemudian lanjut. Sebagaimana para ulama terdahulu, mereka menulis kitab-kitab dari dasar, seperti Imam Nawawi rahimahullāhu Ta'āla,
Beliau menulis Kitab Al-Minhaj yang merupakan ringkasan fiqih Asy-Syāfi'i.
Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Ar-Raudhah yang lebih panjang penjelasannya.
Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Majmu' yang merupakan disana dijelaskan tentang perbedaan pendapat para ulama, dalil-dalil dan diskusi diantara mereka.
Begitu juga Ibnu Qudāmah Al-Hambali, Beliau menulis kitab dasar Kitab Umdatul Fiqh. Kemudian dilanjutkan dengan Kitab Al-Kāfi, kemudian dilanjutkan kitab-kitab panjang yaitu Kitab Al-Mughni sebagaimana yang kita ketahui.
4⃣ Dalam mempelajari kitab Madzhab Syāfi'i ini, bukan berarti kita fanatik terhadap Madzhab Syāfi'i ataupun kita taqlid. Karena sesungguhnya, semua perkataan selain dari Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bisa diterima ataupun ditolak.
Oleh karena itu para ulama, baik terdahulu maupun terkini, bahkan Imam Syāfi'i sendiri, beliau mengatakan :
إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثِ فَهُوَ مَذْهَبِيْ
"Apabila hadits itu shahih maka itu pendapatku."
Oleh karena itu, hendaknya penuntut ilmu berpegang kepada Al-Kitab dan Sunnah di dalam berpendapat.
5⃣ Dalam mempelajari matan Abu Syujā' yang merupakan ringkasan fiqih Syāfi'i ini, akan kami jelaskan secara ringkas saja dan lebih fokus kepada bagaimana masalah-masalah yang dibahas oleh para ulama atau gambaran masalah yang dibahas oleh para ulama, bukan pada khilaf ataupun perbedaan pendapat diantara mereka.
Dan akan kami jelaskan secara ringkas dalil-dalil apabila nanti dibutuhkan.
6⃣ Pada pembahasan kitab fiqih ini tentu akan memakan waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu jika ada kesempatan mendatang, kita bisa selesaikan pada kajian intensif, baik secara offline maupun online. Maka akan kami sampaikan linknya kepada para ikhwah sekalian agar faidahnya bisa lebih menyeluruh.
Demikian yang bisa kami sampaikan pada halaqoh yang ke-2.
وَصَلَّى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ والسلّم
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
______________________________
Donasi Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 04 | Syirik Membatalkan Amalan
Kamis, 4 Rajab 1436 H / 23 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 04 | Syirik Membatalkan Amalan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
SYIRIK MEMBATALKAN AMALAN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang keempat adalah tentang bahwasanya syirik membatalkan amalan.
Pernahkan anda kehilangan fail data berharga hasil kerja keras anda selama berhari-hari, atau berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun ? Bagaimanakah perasaan anda saat itu ? Sedih bukan ?
Tekadang seseorang berani untuk membayar jutaan rupiah asal fail berharga tersebut kembali.
Saudaraku sekalian, syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amalan seseorang.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)
بَلِ الله فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)
"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu, wahai Muhammad dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, bahwa apabila kamu berbuat syirik, maka sungguh akan batal amalnmu, dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlan Allāh saja, dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Qs AzZumar 65-66)
Dalam ayat ini, seorang Nabi pun, apabila dia berbuat syirik, maka akan batal amalannya.
Oleh karena itu saudara-saudara sekalian, jagalah amalan anda yang sudah anda tabung bertahun-tahun, jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja, hanya karena kejahilan anda terhadap tauhid dan juga syirik.
Terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa, bisa menghancurkan amalan sebesar gunung, dan belum tentu ada waktu lagi untuk bisa menabung kembali.
Itulah halaqah yang keempat dan sampai bertemu kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘 Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 04 | Syirik Membatalkan Amalan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
SYIRIK MEMBATALKAN AMALAN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqoh yang keempat adalah tentang bahwasanya syirik membatalkan amalan.
Pernahkan anda kehilangan fail data berharga hasil kerja keras anda selama berhari-hari, atau berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun ? Bagaimanakah perasaan anda saat itu ? Sedih bukan ?
Tekadang seseorang berani untuk membayar jutaan rupiah asal fail berharga tersebut kembali.
Saudaraku sekalian, syirik adalah dosa besar yang bisa membatalkan amalan seseorang.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (65)
بَلِ الله فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (66)
"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu, wahai Muhammad dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, bahwa apabila kamu berbuat syirik, maka sungguh akan batal amalnmu, dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang merugi. Maka sembahlan Allāh saja, dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Qs AzZumar 65-66)
Dalam ayat ini, seorang Nabi pun, apabila dia berbuat syirik, maka akan batal amalannya.
Oleh karena itu saudara-saudara sekalian, jagalah amalan anda yang sudah anda tabung bertahun-tahun, jangan biarkan amalan tersebut hilang begitu saja, hanya karena kejahilan anda terhadap tauhid dan juga syirik.
Terkadang sebuah perbuatan yang kita anggap biasa, bisa menghancurkan amalan sebesar gunung, dan belum tentu ada waktu lagi untuk bisa menabung kembali.
Itulah halaqah yang keempat dan sampai bertemu kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bagian 1
Rabu, 3 Rajab 1436 H / 22 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bagian 1
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Kita lanjutkan ke hadits berikutnya :
وَ عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس
Dari sahabat Nawwas bin Sam'an radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata:
Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang makna AlBirr (yaitu kebajikan) dan itsm (yaitu dosa)-Apa itu kebajikan? Apa itu dosa?. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata AlBirr (kebajikan) adalah akhlaq yang mulia. Adapun dosa yaitu apa yang engkau gelisahkan dihatimu dan engkau tidak suka kalau ada orang yang mengetahuinya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sahabat ini bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentunya agar dia bisa beramal dan demikianlah adab seorang yang hendak bertanya maka dia niatkan tatkala dia belajar adalah untuk diamalkan. Dan yang ditanya oleh sahabat ini adalah pertanyaan yang sangat indah, tentang apa sih hakikat kebajikan dan apa sih hakikat dari pada dosa.
Adapun jawaban Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan hak kebajikan, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam : husnul khuluq (akhlaq yang mulia).
Padahal kita tahu bahwasanya kebajikan itu mencakup banyak sekali perkara. Semua kebaikan adalah kebajikan. Tetapi kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan husnul khuluq (akhlaq yang mulia) ? Ini menunjukkan akan keutamaan dan keistimewaan akhlaq yang mulia.
Karenanya sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini mirip seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
"Haji adalah arofah."
Artinya apa ? Inti daripada ibadah haji adalah wukuf di padang arofah. Bukan berarti haji cuma wukuf di padang arofah saja, tidak. Ada namanya thowaf, ada namanya sa'i, ada namanya ihram, ada namanya ibadah-ibadah yang lain (lempar jamarat, mabit di Mina, mabit di Muzdalifah). Ini semua merupakan rangkaian ibadah haji.
Tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan wukuf di padang arofah karena dia adalah inti dari pada ibadah haji.
Sama seperti albirru husnul khuluq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia). Artinya apa ? Akhlaq mulia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Oleh karenanya kalau kita ingin melihat dalil-dalil tentang akhlaq yang mulia sangat banyak.
Seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَيْسَ شَيْءٌ أَثْقَالُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada suatu yang lebih berat dari pada akhlaq yang mulia dalam timbangan pada hari kiamat."
Ini menunjukkan kalau seseorang memiliki akhlaq yag mulia maka akan sangat memperberat timbangan kebajikannya. Di hari yang sangat dia butuhkan kebaikan itu tatkala hari kiamat kelak.
Contohnya juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan dalam haditsnya :
إِنَّ رَجُلَ لاَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ صَائِمِ قَائِمِ
"Sesungguhnya seorang dengan akhlaqnya yang mulia bisa meraih derajat orang yang senantiasa berpuasa sunnah dan senantiasa shalat malam."
Orang ini mungkin dia jarang shalat malam, mungkin dia jarang puasa sunnah. Tetapi dia akhlaqnya mulia, orang senang dekat sama dia, orang bahagia duduk sama dia, orang senang mendengar wejangan-wejangannya. Orang senang mendapatkan bantuannya. Maka meskipun dia jarang shalat malam meskipun dia jarang berpuasa sunnah namun dia mendapat pahala orang-orang seperti itu. Kenapa? Bihusni khuluqihi, dengan akhlaqnya yang mulia. Dan lihatlah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
أَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
"Orang yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya."
Jika anda ingin dekat dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat, perbaiki akhlaq anda. Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan yang paling dekat dengan aku adalah yang paling baik akhlaqnya.
Ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan akhkaq yang mulia, dia adalah amalan yang spesial. Jangan kita sangka amalan itu hanyalah shalat, hanyalah puasa, hanyalah zakat. Akhlaq yang mulia adalah amalan yang sangat spesial yang sangat mulia disisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Apabila seseorang berusaha menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, jangan seorang mengatakan :
"Saya tidak bisa merubah akhlaq saya".
"Saya memang begini modelnya".
"Saya diciptakan begini modelnya, tabiat saya memang seperti ini".
Kalau akhlaq tidak bisa dirubah, buat apa hadits-hadits yang begitu banyak tentang akhlaq yang mulia?. Buat apa ayat-ayat Allah turunkan tentang memotivasi orang-orang berakhlaq mulia?
Ini menunjukkan akhlaq bisa dirubah. Seorang yang pelit bisa jadi orang dermawan. Seorang yang pemarah bisa jadi seorang yang penyabar. Jangan sampai seorang mengatakan :
"Saya memang suka marah",
"Saya memang temperamental".
Jangan!
"Saya begini tipenya".
Seperti itu orang bisa merubah akhlaqnya.
Oleh karena dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Aku menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang terindah akhlaqnya."
Dalam riwayat lain :
لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
"Bagi orang yang memperindah akhlaqnya."
Berarti akhlaq itu bisa diperoleh, bisa diraih.
Dalam hadits kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله
"Barangsiapa yang berusaha bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar."
Orang yang pemarah bisa jadi penyabar.
Karenanya para hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Inilah keutamaan keistimewaan akhlaq mulia.
Para ulama menyebutkan diantara akhlaq mulia sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok : Akhlaq mulia terkumpul pada 3 perkara :
طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى
"Yaitu wajah yang sering berseri-seri, senyum. Kemudian mudah untuk berbuat baik kepada oranglain dan tidak mengganggu oranglain."
Ini 3 rukun akhlaq :
Wajah sering berseri-seri, murah senyum kepada oranglain, artinya tidak merendahkan dan tidak menghinakan orang lain.
Ringan tangan untuk membantu orang lain.
Tidak mengganggu orang lain.
In syaa' Allah kita akan lanjutkan lagi pada halaqoh berikutnya.
Wabillaahit taufiq.
Assalaamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-3 | Hakekat Kebaikan dan Dosa Bagian 1
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Kita lanjutkan ke hadits berikutnya :
وَ عَنِ النَّوَّاسِ ابْنِ سَمْعَانَ رضي اللّه عنه قَالَ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم عَنِ الْبِرِّ وَ اْلأِثْمِ فَقَالَ اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَ اْلأِثْمُ مَا حَاكَ فِى صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاس
Dari sahabat Nawwas bin Sam'an radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata:
Aku bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang makna AlBirr (yaitu kebajikan) dan itsm (yaitu dosa)-Apa itu kebajikan? Apa itu dosa?. Maka Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata AlBirr (kebajikan) adalah akhlaq yang mulia. Adapun dosa yaitu apa yang engkau gelisahkan dihatimu dan engkau tidak suka kalau ada orang yang mengetahuinya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim).
Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sahabat ini bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentunya agar dia bisa beramal dan demikianlah adab seorang yang hendak bertanya maka dia niatkan tatkala dia belajar adalah untuk diamalkan. Dan yang ditanya oleh sahabat ini adalah pertanyaan yang sangat indah, tentang apa sih hakikat kebajikan dan apa sih hakikat dari pada dosa.
Adapun jawaban Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berkaitan dengan hak kebajikan, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam : husnul khuluq (akhlaq yang mulia).
Padahal kita tahu bahwasanya kebajikan itu mencakup banyak sekali perkara. Semua kebaikan adalah kebajikan. Tetapi kenapa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan husnul khuluq (akhlaq yang mulia) ? Ini menunjukkan akan keutamaan dan keistimewaan akhlaq yang mulia.
Karenanya sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam ini mirip seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
الْحَجُّ عَرَفَةُ
"Haji adalah arofah."
Artinya apa ? Inti daripada ibadah haji adalah wukuf di padang arofah. Bukan berarti haji cuma wukuf di padang arofah saja, tidak. Ada namanya thowaf, ada namanya sa'i, ada namanya ihram, ada namanya ibadah-ibadah yang lain (lempar jamarat, mabit di Mina, mabit di Muzdalifah). Ini semua merupakan rangkaian ibadah haji.
Tetapi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengkhususkan penyebutan wukuf di padang arofah karena dia adalah inti dari pada ibadah haji.
Sama seperti albirru husnul khuluq (kebajikan adalah akhlaq yang mulia). Artinya apa ? Akhlaq mulia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Oleh karenanya kalau kita ingin melihat dalil-dalil tentang akhlaq yang mulia sangat banyak.
Seperti sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَيْسَ شَيْءٌ أَثْقَالُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
"Tidak ada suatu yang lebih berat dari pada akhlaq yang mulia dalam timbangan pada hari kiamat."
Ini menunjukkan kalau seseorang memiliki akhlaq yag mulia maka akan sangat memperberat timbangan kebajikannya. Di hari yang sangat dia butuhkan kebaikan itu tatkala hari kiamat kelak.
Contohnya juga Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan dalam haditsnya :
إِنَّ رَجُلَ لاَ يُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ صَائِمِ قَائِمِ
"Sesungguhnya seorang dengan akhlaqnya yang mulia bisa meraih derajat orang yang senantiasa berpuasa sunnah dan senantiasa shalat malam."
Orang ini mungkin dia jarang shalat malam, mungkin dia jarang puasa sunnah. Tetapi dia akhlaqnya mulia, orang senang dekat sama dia, orang bahagia duduk sama dia, orang senang mendengar wejangan-wejangannya. Orang senang mendapatkan bantuannya. Maka meskipun dia jarang shalat malam meskipun dia jarang berpuasa sunnah namun dia mendapat pahala orang-orang seperti itu. Kenapa? Bihusni khuluqihi, dengan akhlaqnya yang mulia. Dan lihatlah sabda Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
أَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
"Orang yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya."
Jika anda ingin dekat dengan Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam pada hari kiamat, perbaiki akhlaq anda. Karena Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan yang paling dekat dengan aku adalah yang paling baik akhlaqnya.
Ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan akhkaq yang mulia, dia adalah amalan yang spesial. Jangan kita sangka amalan itu hanyalah shalat, hanyalah puasa, hanyalah zakat. Akhlaq yang mulia adalah amalan yang sangat spesial yang sangat mulia disisi Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Apabila seseorang berusaha menghiasi dirinya dengan akhlaq yang mulia, jangan seorang mengatakan :
"Saya tidak bisa merubah akhlaq saya".
"Saya memang begini modelnya".
"Saya diciptakan begini modelnya, tabiat saya memang seperti ini".
Kalau akhlaq tidak bisa dirubah, buat apa hadits-hadits yang begitu banyak tentang akhlaq yang mulia?. Buat apa ayat-ayat Allah turunkan tentang memotivasi orang-orang berakhlaq mulia?
Ini menunjukkan akhlaq bisa dirubah. Seorang yang pelit bisa jadi orang dermawan. Seorang yang pemarah bisa jadi seorang yang penyabar. Jangan sampai seorang mengatakan :
"Saya memang suka marah",
"Saya memang temperamental".
Jangan!
"Saya begini tipenya".
Seperti itu orang bisa merubah akhlaqnya.
Oleh karena dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
"Aku menjamin istana di bagian atas surga bagi orang yang terindah akhlaqnya."
Dalam riwayat lain :
لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ
"Bagi orang yang memperindah akhlaqnya."
Berarti akhlaq itu bisa diperoleh, bisa diraih.
Dalam hadits kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:
مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ الله
"Barangsiapa yang berusaha bersabar maka Allah akan jadikan dia penyabar."
Orang yang pemarah bisa jadi penyabar.
Karenanya para hadirin yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Inilah keutamaan keistimewaan akhlaq mulia.
Para ulama menyebutkan diantara akhlaq mulia sebagaimana perkataan Ibnul Mubaarok : Akhlaq mulia terkumpul pada 3 perkara :
طَلاَقَةُ الوَجه ، وَبَذْلُ المَعروف ، وَكَفُّ الأذَى
"Yaitu wajah yang sering berseri-seri, senyum. Kemudian mudah untuk berbuat baik kepada oranglain dan tidak mengganggu oranglain."
Ini 3 rukun akhlaq :
Wajah sering berseri-seri, murah senyum kepada oranglain, artinya tidak merendahkan dan tidak menghinakan orang lain.
Ringan tangan untuk membantu orang lain.
Tidak mengganggu orang lain.
In syaa' Allah kita akan lanjutkan lagi pada halaqoh berikutnya.
Wabillaahit taufiq.
Assalaamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
__________________________
📦 Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 03 | Bahaya Kesyirikan
Selasa, 2 Rajab 1436 H / 21 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 03 | Bahaya Kesyirikan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
BAHAYA KESYIRIKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang ketiga adalah tentang bahaya kesyirikan.
Akhil karīm, tauhid adalah amalan yang paling Allāh cintai, sebaliknya syirik yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah adalah amalan yang sangat Allāh murkai.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla memang Maha Pengampun, akan tetapi bila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.
Orang tersebut akan kekal di neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke surganya Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sungguh ini adalah sebuah kerugian yang tidak ada kerugian lebih besar daripada kerugian ini.
Allāh berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ۚ
’’Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendakinya". (An Nisa 48)
Allāh juga berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِالله فَقَدْ حَرَّمَ الله عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار
‘’Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allāh maka Allāh mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang –orang yang zhalim". (QS Al Maidah 72)
Oleh karena itu, hati-hatilah saudaraku dengan dosa yang satu ini, terkadang seseorang terjerumus ke dalam dosa ini sedangkan dia tidak menyadarinya.
Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu yaitu ilmu agama, belajarlah dan berdoalah kepada Allāh.
Berdoalah kepada Allāh dengan sejujur-jujurnya, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melindungi kita dan juga keluarga kita dari perbuatan syirik ini.
Itulah halaqah yang ketiga dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 03 | Bahaya Kesyirikan
~~~~~~~~~~~~~~~
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~
BAHAYA KESYIRIKAN
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang ketiga adalah tentang bahaya kesyirikan.
Akhil karīm, tauhid adalah amalan yang paling Allāh cintai, sebaliknya syirik yaitu menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam beribadah adalah amalan yang sangat Allāh murkai.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla memang Maha Pengampun, akan tetapi bila seseorang meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik besar kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla tidak akan mengampuni dosa syirik tersebut.
Orang tersebut akan kekal di neraka selama-lamanya dan tidak ada harapan baginya untuk masuk ke surganya Allāh Subhānahu wa Ta'āla. Sungguh ini adalah sebuah kerugian yang tidak ada kerugian lebih besar daripada kerugian ini.
Allāh berfirman :
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥْ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦْ ﻳَﺸَﺎﺀُ ۚ
’’Sesungguhnya Allāh tidak akan mengampuni dosa syirik dan masih mengampuni dosa yang lain bagi siapa yang dikehendakinya". (An Nisa 48)
Allāh juga berfirman:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِالله فَقَدْ حَرَّمَ الله عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَار
‘’Sesungguhnya barangsiapa yang menyekutukan Allāh maka Allāh mengharamkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka dan tidak ada penolong bagi orang –orang yang zhalim". (QS Al Maidah 72)
Oleh karena itu, hati-hatilah saudaraku dengan dosa yang satu ini, terkadang seseorang terjerumus ke dalam dosa ini sedangkan dia tidak menyadarinya.
Bentengilah dirimu dengan perisai ilmu yaitu ilmu agama, belajarlah dan berdoalah kepada Allāh.
Berdoalah kepada Allāh dengan sejujur-jujurnya, semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla melindungi kita dan juga keluarga kita dari perbuatan syirik ini.
Itulah halaqah yang ketiga dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-2 | Pandanglah Orang yang di Bawahmu dalam Masalah Dunia
Senin, 1 Rajab 1436 H / 20 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-2 | Pandanglah Orang yang di Bawahmu dalam Masalah Dunia
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Kita lanjutkan hadits berikutnya,
HADITS 2
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللّه عنه قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian".
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini mengajarkan kita dalam masalah dunia hendaknya kita melihat ke bawah, bagaimanapun kekurangan yang ada pada diri kita dalam masalah dunia, pasti masih ada orang-orang yang lebih parah daripada kita.
Lihatlah kita sekarang dalam keadaan sehat alhamdulillah. Kalau kita melihat ke bawah, betapa banyak orang yang sakit, betapa banyak orang yang terkapar di tempat tidur tidak bisa bergerak karena sakit. Kemudian betapa banyak juga orang yang cacat yang lebih parah dari kita lebih banyak. Dan seorangpun kalau diapun sakit masih ada yang lebih parah sakitnya. Senantiasa pasti ada yang lebih menderita daripada apa yang kita rasakan.
Kalau kita selalu melihat ke bawah dalam masalah kesehatan saja, maka kita akan senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan ini memang berat. Senantiasa bersyukur bukan perkara yang mudah.
Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Hanya sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur. (Saba':13)
Kita berdo'a semoga Allāh menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba Allāh yang sedikit tersebut.
Dan diantara hal yang membuat kita senantiasa bersyukur, melihat ke bawah dalam masalah dunia.
Demikian juga masalah harta, misalnya, kita mungkin punya kendaraan yang mungkin kurang bagus, tetapi masih banyak orang dibawah kita yang kendaraannya lebih jelek daripada kendaraan milik kita.
Dan bisa jadi masih banyak orang yang hanya memiliki motor atau memiliki sepeda bahkan. Masih banyak orang yang hanya bisa berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan sama sekali maka dalam hal dunia kita lihat ke bawah, jangan kita lihat ke atas. Karena dunia kalau lihat ke atas maka tidak akan ada habisnya. Maka Rasūlullāh melarang untuk melihat ke atas masalah dunia.
Dunia tidak akan pernah habisnya, orang yang mencari dunia akan senantiasa haus akan dunia. Maka terkadang kita heran tatkala melihat ada seorang sudah tua, umur sudah 60 tahun atau 70 tahun atau bahkan 80 tahun, namun masih sibuk tenggelam dalam dunia, masih memikirkan ini memikirkan anu, kapan dia mau istirahat? Kapan dia mau menikmati dunianya sementara dia terus mencari dunia dan demikian terus kehidupannya.
Mungkin kita heran, tapi dia sendiri tidak heran. Kenapa? Karena memang tidak ada rasa batas terakhir masalah kepuasan dunia. Seorang kapan mendapatkan sesuatu dia masih mencari yang lain lagi.
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
"Seandainya anak Adam memiliki 2 lembah emas maka dia akan mencari lembah yang ke-3 dan dia tidak akan berhenti kecuali kalau pasir sudah dimasukkan dalam mulutnya".
Kalau sudah meninggal baru dia berhenti. Dunia itu ibarat air laut yang asin. Semakin ditelan maka akan semakin membuat haus seseorang. Makanya dalam masalah dunia kita lihat dibawah agar kita senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Berbeda halnya dengan masalah akhirat, masalah akhirat kita lihat ke atas. Allāh mengajarkan kita untuk semangat dalam masalah akhirat.
Oleh karenanya tatkala kita sholat kita mengatakan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
"Ya Allāh tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka".
Siapa? Mereka yaitu nabiyyiin wa shiddiqiin wasy syuhadaa wash shaalihin, jalan para Nabi, jalan para orang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih.
Kita disuruh untuk melihat ke atas masalah akhirat senantiasa minta petunjuk mereka, petunjuk jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang hebat-hebat seperti para Nabi, para syuhada, para shalihin.
Demikian juga Allāh mengatakan:
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
"Dan untuk yang demikian, maka hendaknya orang-orang yang berlomba, berlomba-lombalah...". (Al Muthaffifin : 26)
Dalam masalah surga maka berlomba-lombalah.
Kata Allāh :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Berlomba-lombalah dalam kebaikan". (AlBaqarah : 148)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
"Berlomba-lombalah untuk meraih ampunan Allāh. Dan berlomba-lombalah untuk segera meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi".
(Ali Imran: 133)
Dalam masalah kebaikan, dalam masalah agama maka seorang melihat ke atas sehingga dia tidak merasa puas dengan agama yang dia miliki, dia tidak merasa ujub (merasa bangga).
Bukan sebaliknya, sebaliknya orang masalah dunia lihat ke atas, masalah agama lihat ke bawah. Masalah dunia tidak pernah puas, melihat ke atas terus, sudah punya mobil masih melihat tertarik kepada mobil yang mewah, melihat tetangganya, melihat teman-temannya. Masalah agama malah justru lihat kebawah. Dia mengatakan "Ah, alhamdulillah saya sudah sholat, masih banyak orang yang tidak sholat". Ya benar memang masih banyak orang yang tidak sholat, bersyukur kepada Allāh. Tapi lihat ke atas, agar kau merasa dirimu penuh kekurangan, masih banyak orang-orang yang lebih hebat dari engkau sehingga engkau terpacu untuk mencari yang lebih dalam masalah agama.
Karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan :
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..
"Jika engkau minta surga maka mintalah surga Firdaus, surga yang paling tinggi. Karena itulah surga yang paling tinggi".
Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memiliki himmah 'aaliyah (semangat yang tinggi) di dalam masalah agama dan kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki sekarang.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita orang-orang yang memandang kebawah tatkala masalah dunia dan menjadikan kita orang-orang yang memandang ke atas dalam masalah agama.
Wabillahit taufiq, wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakātuh.
__________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-2 | Pandanglah Orang yang di Bawahmu dalam Masalah Dunia
Download Audio dan Transkrip
🌐 http://goo.gl/iWEn9a
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,
Kita lanjutkan hadits berikutnya,
HADITS 2
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي اللّه عنه قَالَ:قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صلّى اللّه عليه وسلّم أُنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوْا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ عَنْ لاَ تَزْدَرُوْا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu ia berkata: Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda: “Lihatlah kepada yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat yang diatas kalian sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allāh yang Allāh berikan kepada kalian".
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, hadits ini mengajarkan kita dalam masalah dunia hendaknya kita melihat ke bawah, bagaimanapun kekurangan yang ada pada diri kita dalam masalah dunia, pasti masih ada orang-orang yang lebih parah daripada kita.
Lihatlah kita sekarang dalam keadaan sehat alhamdulillah. Kalau kita melihat ke bawah, betapa banyak orang yang sakit, betapa banyak orang yang terkapar di tempat tidur tidak bisa bergerak karena sakit. Kemudian betapa banyak juga orang yang cacat yang lebih parah dari kita lebih banyak. Dan seorangpun kalau diapun sakit masih ada yang lebih parah sakitnya. Senantiasa pasti ada yang lebih menderita daripada apa yang kita rasakan.
Kalau kita selalu melihat ke bawah dalam masalah kesehatan saja, maka kita akan senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan ini memang berat. Senantiasa bersyukur bukan perkara yang mudah.
Oleh karenanya Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Hanya sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur. (Saba':13)
Kita berdo'a semoga Allāh menjadikan kita termasuk dari hamba-hamba Allāh yang sedikit tersebut.
Dan diantara hal yang membuat kita senantiasa bersyukur, melihat ke bawah dalam masalah dunia.
Demikian juga masalah harta, misalnya, kita mungkin punya kendaraan yang mungkin kurang bagus, tetapi masih banyak orang dibawah kita yang kendaraannya lebih jelek daripada kendaraan milik kita.
Dan bisa jadi masih banyak orang yang hanya memiliki motor atau memiliki sepeda bahkan. Masih banyak orang yang hanya bisa berjalan kaki, tidak memiliki kendaraan sama sekali maka dalam hal dunia kita lihat ke bawah, jangan kita lihat ke atas. Karena dunia kalau lihat ke atas maka tidak akan ada habisnya. Maka Rasūlullāh melarang untuk melihat ke atas masalah dunia.
Dunia tidak akan pernah habisnya, orang yang mencari dunia akan senantiasa haus akan dunia. Maka terkadang kita heran tatkala melihat ada seorang sudah tua, umur sudah 60 tahun atau 70 tahun atau bahkan 80 tahun, namun masih sibuk tenggelam dalam dunia, masih memikirkan ini memikirkan anu, kapan dia mau istirahat? Kapan dia mau menikmati dunianya sementara dia terus mencari dunia dan demikian terus kehidupannya.
Mungkin kita heran, tapi dia sendiri tidak heran. Kenapa? Karena memang tidak ada rasa batas terakhir masalah kepuasan dunia. Seorang kapan mendapatkan sesuatu dia masih mencari yang lain lagi.
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ
"Seandainya anak Adam memiliki 2 lembah emas maka dia akan mencari lembah yang ke-3 dan dia tidak akan berhenti kecuali kalau pasir sudah dimasukkan dalam mulutnya".
Kalau sudah meninggal baru dia berhenti. Dunia itu ibarat air laut yang asin. Semakin ditelan maka akan semakin membuat haus seseorang. Makanya dalam masalah dunia kita lihat dibawah agar kita senantiasa bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Berbeda halnya dengan masalah akhirat, masalah akhirat kita lihat ke atas. Allāh mengajarkan kita untuk semangat dalam masalah akhirat.
Oleh karenanya tatkala kita sholat kita mengatakan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ
"Ya Allāh tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka".
Siapa? Mereka yaitu nabiyyiin wa shiddiqiin wasy syuhadaa wash shaalihin, jalan para Nabi, jalan para orang shidiq, para syuhada dan orang-orang shalih.
Kita disuruh untuk melihat ke atas masalah akhirat senantiasa minta petunjuk mereka, petunjuk jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang hebat-hebat seperti para Nabi, para syuhada, para shalihin.
Demikian juga Allāh mengatakan:
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
"Dan untuk yang demikian, maka hendaknya orang-orang yang berlomba, berlomba-lombalah...". (Al Muthaffifin : 26)
Dalam masalah surga maka berlomba-lombalah.
Kata Allāh :
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
"Berlomba-lombalah dalam kebaikan". (AlBaqarah : 148)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
"Berlomba-lombalah untuk meraih ampunan Allāh. Dan berlomba-lombalah untuk segera meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi".
(Ali Imran: 133)
Dalam masalah kebaikan, dalam masalah agama maka seorang melihat ke atas sehingga dia tidak merasa puas dengan agama yang dia miliki, dia tidak merasa ujub (merasa bangga).
Bukan sebaliknya, sebaliknya orang masalah dunia lihat ke atas, masalah agama lihat ke bawah. Masalah dunia tidak pernah puas, melihat ke atas terus, sudah punya mobil masih melihat tertarik kepada mobil yang mewah, melihat tetangganya, melihat teman-temannya. Masalah agama malah justru lihat kebawah. Dia mengatakan "Ah, alhamdulillah saya sudah sholat, masih banyak orang yang tidak sholat". Ya benar memang masih banyak orang yang tidak sholat, bersyukur kepada Allāh. Tapi lihat ke atas, agar kau merasa dirimu penuh kekurangan, masih banyak orang-orang yang lebih hebat dari engkau sehingga engkau terpacu untuk mencari yang lebih dalam masalah agama.
Karenanya Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam mengatakan :
فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..
"Jika engkau minta surga maka mintalah surga Firdaus, surga yang paling tinggi. Karena itulah surga yang paling tinggi".
Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk memiliki himmah 'aaliyah (semangat yang tinggi) di dalam masalah agama dan kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki sekarang.
Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjadikan kita orang-orang yang memandang kebawah tatkala masalah dunia dan menjadikan kita orang-orang yang memandang ke atas dalam masalah agama.
Wabillahit taufiq, wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakātuh.
__________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
TEKA TEKI
📆 Sabtu, 28 Jumadil Akhir 1436 H / 18 April 2015
Artikel Tematik |
TEKA TEKI
Pernahkah Anda mengisi teka teki silang?
Terkadang teka teki yang ada di koran atau surat kabar tidak memberi pelajaran yang baik.
Dahulu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memberikan teka teki kepada para shahabat.
Suatu hari Nabi berkumpul dengan para shahabatnya, Beliau bertanya: "Kabarkan kepadaku sebuah pohon yang perumpamaanya seperti seorang mu'min?"
Rupanya para shahabat memikirkan pohon-pohon yang ada di pedesaan.
Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab: "Dia adalah pohon kurma."
Lihatlah...Nabi memberikan teka teki kepada para shahabatnya.
Kenapa pohon kurma mirip dengan seorang mu'min yaa akhii?
Pohon kurma...Dedaunannya tidak pernah jatuh.
Kata para ulama, itu berarti amalan seorang mu'min tidak pernah gugur.
Kenapa? Karena keimanan dan ketaqwaan dia.
Demikianlah, amalan seorang mu'min tidak pernah gugur.
Kata para ulama juga, pohon kurma selalu bermanfaat di semua bagiannya..Daunnya... buahnya.. bijinya... batangnya...
Demikian seorang mu'min, seorang mu'min bermanfaat di semua amalannya.
Dimana dia pergi... dimana dia tinggal... selalu memberikan manfaat kepada manusia. Dia tidak pernah menyusahkan orang.
Lihatlah pohon kurma...
Ketika dia ditanam di sebuah tanah yang tandus di negeri Arab dengan sedikit sekali air... tetapi dia bisa tumbuh.
Luar biasa...
Kurma dapat hidup dalam keadaan yang sangat ekstrim sekalipun.
Begitu juga seorang mu'min, dalam keadaan apapun dia sabar. Saat sulit sabar...kuat...tegar...menghadapi berbagai macam ujian...musibah... malapetaka.
"Mengagumkan seorang mu'min itu, seorang mumin itu semuanya baik...Jika ditimpa kesenangan dia bersyukur...maka itu menjadi kebaikan untuk dia...Kalau dia ditimpa kesusahan, dia sabar...maka itupun kebaikan buat dia."
Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada seorang mu'min.
Pohon kurma terlihat anggun, tumbuh diatas batang yang kokoh...
Begitu juga seorang mu'min...Imannya kokoh... pondasinya kokoh karena dia berdiri diatas keimanan.
Pohon kurma memiliki cabang-cabang...
Demikian juga seorang mu'min... Pondasinya iman dan cabangnya adalah amalan-amalan.
Pohon kurma buah manis...
Seorang mumin yang tidak membaca Alqurān seperti buah kurma.. Tidak ada wanginya tetapi manis...karena seorang mu'min hatinya bercahaya karena keimanan.
Tapi Subhānallāh...
Pohon kurma memiliki duri-duri dimana durinya melindunginya dari siapa yang mengganggunya.
Demikian juga seorang mu'min, dia terlihat lembut, bersahaja dan berakhlaq tetapi kalau agamanya diganggu, maka dia marah karena Allāh dan tidak akan berdiam diri.
Jika pohon kurma ditanam ditanah tandus maka menjadikan tanah disekitarnya menjadi subur...
Demikian seorang mu'min, dimana saja dia tinggal dia selalu mewarnai...selalu menjadikan tempatnya subur dengan keimanan...
Dia dakwahi tetangganya, dia ajak orang sekitarnya untuk beriman kepada Allāh, untuk senantiasa menabur keimanan dalam hati hati manusia.
Mā syā Allāh.. betapa mirip sekali antara seorang mu'min dengan pohon kurma.
Maka jadilah kita seperti pohon kurma.. menjadi mu'min yg bermanfaat untuk manusia, yang sabar menghadapi berbagai macam keadaan dan senantiasa berusaha untuk memperlihatkan keindahan Islam.
Tapi bukan keindahan berdasarkan kelemahan, akan tetapi keindahan atas dasar kekokohan iman dan taqwa kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
✒ Ustadz Badrusalam, LC hafizhahullāh
Sumber: http://youtu.be/85rTmRbS90I
~~~~~❃❃❃~~~~~
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Artikel Tematik |
TEKA TEKI
Pernahkah Anda mengisi teka teki silang?
Terkadang teka teki yang ada di koran atau surat kabar tidak memberi pelajaran yang baik.
Dahulu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam pernah memberikan teka teki kepada para shahabat.
Suatu hari Nabi berkumpul dengan para shahabatnya, Beliau bertanya: "Kabarkan kepadaku sebuah pohon yang perumpamaanya seperti seorang mu'min?"
Rupanya para shahabat memikirkan pohon-pohon yang ada di pedesaan.
Lalu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menjawab: "Dia adalah pohon kurma."
Lihatlah...Nabi memberikan teka teki kepada para shahabatnya.
Kenapa pohon kurma mirip dengan seorang mu'min yaa akhii?
Pohon kurma...Dedaunannya tidak pernah jatuh.
Kata para ulama, itu berarti amalan seorang mu'min tidak pernah gugur.
Kenapa? Karena keimanan dan ketaqwaan dia.
Demikianlah, amalan seorang mu'min tidak pernah gugur.
Kata para ulama juga, pohon kurma selalu bermanfaat di semua bagiannya..Daunnya... buahnya.. bijinya... batangnya...
Demikian seorang mu'min, seorang mu'min bermanfaat di semua amalannya.
Dimana dia pergi... dimana dia tinggal... selalu memberikan manfaat kepada manusia. Dia tidak pernah menyusahkan orang.
Lihatlah pohon kurma...
Ketika dia ditanam di sebuah tanah yang tandus di negeri Arab dengan sedikit sekali air... tetapi dia bisa tumbuh.
Luar biasa...
Kurma dapat hidup dalam keadaan yang sangat ekstrim sekalipun.
Begitu juga seorang mu'min, dalam keadaan apapun dia sabar. Saat sulit sabar...kuat...tegar...menghadapi berbagai macam ujian...musibah... malapetaka.
"Mengagumkan seorang mu'min itu, seorang mumin itu semuanya baik...Jika ditimpa kesenangan dia bersyukur...maka itu menjadi kebaikan untuk dia...Kalau dia ditimpa kesusahan, dia sabar...maka itupun kebaikan buat dia."
Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada seorang mu'min.
Pohon kurma terlihat anggun, tumbuh diatas batang yang kokoh...
Begitu juga seorang mu'min...Imannya kokoh... pondasinya kokoh karena dia berdiri diatas keimanan.
Pohon kurma memiliki cabang-cabang...
Demikian juga seorang mu'min... Pondasinya iman dan cabangnya adalah amalan-amalan.
Pohon kurma buah manis...
Seorang mumin yang tidak membaca Alqurān seperti buah kurma.. Tidak ada wanginya tetapi manis...karena seorang mu'min hatinya bercahaya karena keimanan.
Tapi Subhānallāh...
Pohon kurma memiliki duri-duri dimana durinya melindunginya dari siapa yang mengganggunya.
Demikian juga seorang mu'min, dia terlihat lembut, bersahaja dan berakhlaq tetapi kalau agamanya diganggu, maka dia marah karena Allāh dan tidak akan berdiam diri.
Jika pohon kurma ditanam ditanah tandus maka menjadikan tanah disekitarnya menjadi subur...
Demikian seorang mu'min, dimana saja dia tinggal dia selalu mewarnai...selalu menjadikan tempatnya subur dengan keimanan...
Dia dakwahi tetangganya, dia ajak orang sekitarnya untuk beriman kepada Allāh, untuk senantiasa menabur keimanan dalam hati hati manusia.
Mā syā Allāh.. betapa mirip sekali antara seorang mu'min dengan pohon kurma.
Maka jadilah kita seperti pohon kurma.. menjadi mu'min yg bermanfaat untuk manusia, yang sabar menghadapi berbagai macam keadaan dan senantiasa berusaha untuk memperlihatkan keindahan Islam.
Tapi bukan keindahan berdasarkan kelemahan, akan tetapi keindahan atas dasar kekokohan iman dan taqwa kepada Allāh Subhānahu Wa Ta'āla.
✒ Ustadz Badrusalam, LC hafizhahullāh
Sumber: http://youtu.be/85rTmRbS90I
~~~~~❃❃❃~~~~~
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Kajian 01 | Pentingnya Kita Belajar Agama
Jum'at, 27 Jumadil Akhir 1436 / 17 April 2015
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 1
Kajian 01 | Pentingnya Kita Belajar Agama
download audio di 🌐 http://goo.gl/h4UHH3
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و على آله و صحبه وَمَنْ تَبِعَ سنّة، أما بعد.
Ikhwah fiddin a'āzāniyallāhu wa iyyakum.
Pada halaqoh pertama muqaddimah bagian pertama, kita akan menjelaskan tentang pentingnya belajar agama.
Para ikhwah fiddin a'āzāniyallāhu wa iyyakum, belajar agama adalah salah satu tanda seseorang dia diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan.
Dimana sekarang orang-orang meninggalkan agama, meninggalkan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mana dia adalah sumber kebaikan dan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat.
Di dalam sebuah hadits riwayat Mu'awiyah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ (صحيح البخاري و مسلم)
Kata Rasūlullāh: "Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan maka niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya". (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan pentingnya pemahaman di dalam agama karena dia adalah alamat kebaikan yang Allāh kehendaki dalam diri seseorang.
Dan kebalikannya, seseorang yang tidak Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya niscaya dia tidak akan difahamkan dalam agama. Tidak akan ada keinginan untuk belajar agama, dia sama sekali tidak menoleh kepada ilmu agama, sehingga bagaimana dia akan mendapatkan kebaikan manakala dia tidak faham akan kebaikan itu sendiri.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan :
Dan setiap orang yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka PASTI Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya. Dan orang-orang yang dia tidak difahami difahamkan dalam urusan agamanya maka dia tidak diinginkan kebaikan pada dirinya.
Akan tetapi, ini perlu menjadi catatan :
Tidak setiap orang yang dia difahamkan dalam urusan agamanya pasti akan dikehendaki Allāh kebaikan pada dirinya.
Kenapa? Karena kata beliau : Karena tidak cukup memahami agama, akan tetapi harus disertai dengan mengamalkan pemahaman tersebut.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, kata beliau: Pemahaman agama itu adalah salah satu syarat untuk mendapatkan keberhasilan, kemenangan, kebahagiaan, kebaikan dan seterusnya.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, bagi siapapun yang menginginkan kebaikan, keselamatan di dunia dan di akhirat:
Yang PERTAMA
Adalah dia harus mempelajari agama yang Allāh turunkan kepada rasulnya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam karena apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bawa itu adalah sumber kemashlahatan, sumber kebaikan dan sumber keselamatan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang berpaling dari apa yang dibawa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka sungguh dia tidak ada kebaikan pada dirinya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Bagaimana seseorang bisa menempuh jalan-jalan keselamatan apabila dia tidak mengetahuinya. Bagaimana dia bisa mendapatkan kebaikan berupa surga sementara dia tidak tahu jalannya.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, ini adalah pintu pertama pembuka bagi setiap orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat, dia harus memahami perintah Allāh dan perintah RasulNya. Dia harus faham akan agamanya karena itu adalah sumber keselamatan di dunia dan di akhirat.
Yang KEDUA
Bahwasanya pemahaman tadi tidak akan bermanfaat apabila tidak diamalkan. Ini adalah syarat kedua seseorang bisa selamat di dunia dan di akhirat, yaitu mengamalkan ilmunya, mengamalkan apa yang dia fahami. Bagaimana seseorang bisa selamat tatkala dia mengetahui jalan keselamatan akan tetapi dia tidak menempuhnya.
Oleh karena itu tidak cukup dengan memahami agama, akan tetapi kita juga mengamalkannya. Oleh karena itu kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar senantiasa diberikan pemahaman terhadap ilmu agama dan diberikan kemudahan untuk mengamalkannnya dan diberikan taufiq untuk diterima amalan-amalan kita.
Do’a dari Sunnah Rasulullah:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدِنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَهْمًا وَارْزُقْنِي َعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Demikian kita do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Ya Allāh berikanlah manfaat terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah ilmu-ilmu yang bermanfaat kepadaku dan tambahkanlah ilmu dan berikanlah rizki berupa pemahaman dan berikanlah rizki berupa amal-amal yang diterima disisi Engkau.
Dan kepada Allāh lah kita berharap dan kita berdoa agar senantiasa membimbing kita di atas hidayah Islam, hidayah Iman sehingga kita bisa bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan hati yang bersih, hati yang diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikian pertemuan pertama kita, in syā Allāh kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya
و صلى الله على النّبيّنا محمد و على آله و صحبه و سلم
___________________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Fauzan ST, MA
📙 Muqaddimah Bagian 1
Kajian 01 | Pentingnya Kita Belajar Agama
download audio di 🌐 http://goo.gl/h4UHH3
~~~~~~~~~~~~~~~
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله, و على آله و صحبه وَمَنْ تَبِعَ سنّة، أما بعد.
Ikhwah fiddin a'āzāniyallāhu wa iyyakum.
Pada halaqoh pertama muqaddimah bagian pertama, kita akan menjelaskan tentang pentingnya belajar agama.
Para ikhwah fiddin a'āzāniyallāhu wa iyyakum, belajar agama adalah salah satu tanda seseorang dia diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan.
Dimana sekarang orang-orang meninggalkan agama, meninggalkan sabda Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam yang mana dia adalah sumber kebaikan dan keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat.
Di dalam sebuah hadits riwayat Mu'awiyah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu beliau berkata bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ (صحيح البخاري و مسلم)
Kata Rasūlullāh: "Barangsiapa yang Allāh kehendaki kebaikan maka niscaya Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya". (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan pentingnya pemahaman di dalam agama karena dia adalah alamat kebaikan yang Allāh kehendaki dalam diri seseorang.
Dan kebalikannya, seseorang yang tidak Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya niscaya dia tidak akan difahamkan dalam agama. Tidak akan ada keinginan untuk belajar agama, dia sama sekali tidak menoleh kepada ilmu agama, sehingga bagaimana dia akan mendapatkan kebaikan manakala dia tidak faham akan kebaikan itu sendiri.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan :
Dan setiap orang yang Allāh kehendaki kebaikan pada dirinya maka PASTI Allāh akan fahamkan dia dalam urusan agamanya. Dan orang-orang yang dia tidak difahami difahamkan dalam urusan agamanya maka dia tidak diinginkan kebaikan pada dirinya.
Akan tetapi, ini perlu menjadi catatan :
Tidak setiap orang yang dia difahamkan dalam urusan agamanya pasti akan dikehendaki Allāh kebaikan pada dirinya.
Kenapa? Karena kata beliau : Karena tidak cukup memahami agama, akan tetapi harus disertai dengan mengamalkan pemahaman tersebut.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, kata beliau: Pemahaman agama itu adalah salah satu syarat untuk mendapatkan keberhasilan, kemenangan, kebahagiaan, kebaikan dan seterusnya.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, bagi siapapun yang menginginkan kebaikan, keselamatan di dunia dan di akhirat:
Yang PERTAMA
Adalah dia harus mempelajari agama yang Allāh turunkan kepada rasulnya kepada Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam karena apa yang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bawa itu adalah sumber kemashlahatan, sumber kebaikan dan sumber keselamatan di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang berpaling dari apa yang dibawa Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam maka sungguh dia tidak ada kebaikan pada dirinya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.
Bagaimana seseorang bisa menempuh jalan-jalan keselamatan apabila dia tidak mengetahuinya. Bagaimana dia bisa mendapatkan kebaikan berupa surga sementara dia tidak tahu jalannya.
Oleh karena itu ikhwah fiddin a'aazaaniyallaahu wa iyyakum, ini adalah pintu pertama pembuka bagi setiap orang yang menginginkan kebaikan di dunia dan di akhirat, dia harus memahami perintah Allāh dan perintah RasulNya. Dia harus faham akan agamanya karena itu adalah sumber keselamatan di dunia dan di akhirat.
Yang KEDUA
Bahwasanya pemahaman tadi tidak akan bermanfaat apabila tidak diamalkan. Ini adalah syarat kedua seseorang bisa selamat di dunia dan di akhirat, yaitu mengamalkan ilmunya, mengamalkan apa yang dia fahami. Bagaimana seseorang bisa selamat tatkala dia mengetahui jalan keselamatan akan tetapi dia tidak menempuhnya.
Oleh karena itu tidak cukup dengan memahami agama, akan tetapi kita juga mengamalkannya. Oleh karena itu kita berdo'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla agar senantiasa diberikan pemahaman terhadap ilmu agama dan diberikan kemudahan untuk mengamalkannnya dan diberikan taufiq untuk diterima amalan-amalan kita.
Do’a dari Sunnah Rasulullah:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِيْ مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدِنِيْ عِلْمًا وَارْزُقْنِي فَهْمًا وَارْزُقْنِي َعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
Demikian kita do'a kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Ya Allāh berikanlah manfaat terhadap ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah ilmu-ilmu yang bermanfaat kepadaku dan tambahkanlah ilmu dan berikanlah rizki berupa pemahaman dan berikanlah rizki berupa amal-amal yang diterima disisi Engkau.
Dan kepada Allāh lah kita berharap dan kita berdoa agar senantiasa membimbing kita di atas hidayah Islam, hidayah Iman sehingga kita bisa bertemu dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dengan hati yang bersih, hati yang diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Demikian pertemuan pertama kita, in syā Allāh kita akan lanjutkan pada pertemuan berikutnya
و صلى الله على النّبيّنا محمد و على آله و صحبه و سلم
___________________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 02 | Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga
Kamis, 26 Jumadil Akhir 1436 H / 16 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 02 | Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga
~~~~~~~
Download Audio
http://goo.gl/xs1FIo
~~~~~~~~
TAUHID SYARAT MUTLAK MASUK SURGA
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang kedua dari Silsilah Belajar Tauhid, tauhid adalah syarat mutlak masuk ke dalam surga.
Saudaraku, orang yang menginginkan kabahagiaan di surga maka dia harus memiliki modal yang satu ini, yaitu modal BERTAUHID, tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang bertauhid meskipun terkadang dia di adzab sebelumnya ke dalam neraka karena dosa yang dia lakukan.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ الله الجَنَّةُ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
’’Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan juga RasulNya dan bersaksi bahwasanya 'Isa adalah hamba Allāh dan juga RasulNya dan kalimatNya yang Allāh tiupkan kepada Maryam dan ruh dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan bersaksi bahwasanya surga adalah benar dan neraka adalah benar maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memasukan dia ke dalam surga, sesuai dengan apa yang telah dia amalkan‘’. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam hadits yang lain, nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ الله
"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengharamkan neraka, bagi orang yang mengatakan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh) yang dia mengharap dengan kalimat tersebut wajah Allāh Subhānahu wa Ta'āla. (HR Bukhori & Muslim)
Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya modal utama untuk mendapatkan surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah dengan BERTAUHID.
Itulah halaqah yang kedua dan sampai berjumpa kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
__________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 02 | Tauhid Syarat Mutlak Masuk Surga
~~~~~~~
Download Audio
http://goo.gl/xs1FIo
~~~~~~~~
TAUHID SYARAT MUTLAK MASUK SURGA
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Halaqah yang kedua dari Silsilah Belajar Tauhid, tauhid adalah syarat mutlak masuk ke dalam surga.
Saudaraku, orang yang menginginkan kabahagiaan di surga maka dia harus memiliki modal yang satu ini, yaitu modal BERTAUHID, tidak akan masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang bertauhid meskipun terkadang dia di adzab sebelumnya ke dalam neraka karena dosa yang dia lakukan.
Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ، وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ الله الجَنَّةُ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
’’Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh, tidak ada sekutu bagiNya dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan juga RasulNya dan bersaksi bahwasanya 'Isa adalah hamba Allāh dan juga RasulNya dan kalimatNya yang Allāh tiupkan kepada Maryam dan ruh dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan bersaksi bahwasanya surga adalah benar dan neraka adalah benar maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan memasukan dia ke dalam surga, sesuai dengan apa yang telah dia amalkan‘’. (HR. Bukhari Muslim)
Dalam hadits yang lain, nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:
فَإِنَّ الله قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله . يَبْتَغِى بِذَلِكَ وَجْهَ الله
"Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengharamkan neraka, bagi orang yang mengatakan laa ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh) yang dia mengharap dengan kalimat tersebut wajah Allāh Subhānahu wa Ta'āla. (HR Bukhori & Muslim)
Ini menunjukkan kepada kita bahwasanya modal utama untuk mendapatkan surga Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah dengan BERTAUHID.
Itulah halaqah yang kedua dan sampai berjumpa kembali pada halaqah berikutnya.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Akhūkum Abdullah Roy
__________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (Bagian 2)
[4/15/2015, 5:32 PM] +62 856-2761-396: 🌍 BimbinganIslam.com
Rabu, 25 Jumadil Akhir 1436 H / 15 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (Bagian 2)
Download Audio
http://goo.gl/1kdYgx
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasūlullāh Sallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat, kita lanjutkan pelajaran kita kemarin. Sekarang kita sampai pada hak yang ke-2 dari 6 hak seorang muslim terhadap yang lainnya.
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ
Jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya.
Sebagian ulama berpendapat bahwasanya hadits ini umum mencakup segala undangan, apakah undangan makan, undangan ke rumahnya. Namun jumhur ulama (mayoritas ulama) mengatakan yang wajib dipenuhi hanyalah undangan walimah. Karena dalam hadits disebutkan: Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya. Ini menunjukknn bahwasanya memenuhi undangan walimah pernikahan maka ini hukumnya adalah wajib.
Hanya saja para ulama mengatakan jika ternyata ada udzur atau ada kemungkaran dalam walimah tersebut maka seseorang tidak wajib untuk hadir. Contohnya dalam walimah tersebut ada ikhtilat, campur laki-laki dengan wanita sementara kita tahu seorang wanita atau seorang ibu-ibu tatkala menghadiri acara walimah maka dia berhias dengan seindah-indahnya, dia bersolek dengan secantik-cantiknya. Kemudian bercampur baur dengan laki-laki hanya dilihat oleh lelaki yang lain, bisa jadi dia tidak memakai jilbab, terbuka auratnya maka dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak wajib untuk menghadiri walimahnya.
Jika dia tahu walimahnya seperti itu, maka dia datang sebelum walimah atau dia datang setelah walimah agar menyenangkan hati saudaranya yang mengundang, bisa sebelum walimah atau sesudah walimah.
Kemudian misalnya kemungkaran yang ada misalnya dalam walimah tersebut ternyata ada khamr, ada bir, ada wine yang disebarkan maka ini juga tidak boleh menghadiri acara seperti ini.
Contohnya juga diantara kemungkaran ada di walimah misalnya nanggap penyanyi dangdut, penyanyi dangdut diundang, kemudian joget-joget kemudian menampakkan auratnya dan keindahan lekukan tubuhnya maka ini juga tidak wajib bagi kita untuk hadir.
Demikian juga misalnya ternyata dalam acara walimah tersebut yang diundang hanyalah orang-orang kaya, orang-orang miskin tidak diundang, orang-orang sekitar tetangganya tidak diundang, maka ini adalah syarruth tho'am (makanan yang terburuk), kita tidak hadir dalam acara seperti ini.
Demikian juga para ulama menyebutkan, tidak wajib kita menghadiri walimah jika ternyata untuk ke acara tersebut butuh safar, maka tidak wajib kita untuk menghadiri walimah tersebut.
Namun yang perlu saya ingatkan, jika ternyata yang mengundang acara walimah tersebut adalah kerabat kita, sepupu kita atau keluarga dekat kita maka memang dari sisi walimahnya tidak wajib tetapi dari sisi dia adalah kerabat maka kita hendaknya hadir. Kita khawatir kalau kita tidak hadir akan membuat dia marah sehingga kita bisa terjerumus dalam memutuskan silaturahmi.
Oleh karenanya, kita melihat acara walimah dari sisi walimahnya dan juga dari sisi kerabat. Kalau kerabat maka kita berusaha menghadiri meskipun harus bersafar.
Kemudian point berikutnya, yaitu yang ke-3, kata Nabi:
وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْه
Jila dia minta nashihat kepadamu maka nashihatilah dia.
Seseorang disunnahkan untuk menashihati saudaranya. Ada seorang shahabat yang mengatakan :
بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Kami membai'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berjanji untuk senantiasa sholat, senantiasa membayar zakat dan senantiasa menashihati setiap muslim.
Namun kata para ulama, menashihati seorang muslim secara kita yang mulai maka hukumnya sunnah. Tetapi jika dia datang minta kepada kita nashihat maka wajib bagi kita untuk menashihatinya.
Terkadang seorang muslim datang kepada kita punya permasalahan minta nashihat maka kita kalau mampu kita nashihati. Jangan kita pelit dengan nashihat, kalau kita mampu menashihati, kasih pengarahan, kasih arahan berdasarkan pengalaman kita, berdasarkan dalil.
Ketika seorang datang pada kita mengatakan : "Ustadz, ada orang ingin melamar putri saya, bagaimana menurut antum, antumkan mengenal orang tersebut". Maka kita berusaha menjelaskan dengan jelas bahwa orang ini bagaimana kebaikannya, bagaimana keburukannya, bagaimana menurut kita bagus atau tidak, seakan-akan kita menjadi posisi sebagai dia. Ini namanya benar-benar kita seorang naashih. Benar-benar memberi nashihat bagi saudara kita. nashihat itu artinya apa? Ingin memberikan kebaikan bagi saudara kita.
Kemudian perkara berikutnya yang ke-4 kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ
Jika dia bersin, kemudian dia mengucapkan "alhamdulillah" maka jawablah dengan "yarhamukallah".
Nanti pembahasan ini secara detail akan datang pada hadits-hadits berikutnya.
Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang ke-5:
وَ إِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ
Jika dia sakit maka jenguklah dia.
Ini adalah sunnah yang harus kita kerjakan dan hukumnya adalah fardhu kifayah artinya orang sakit tidak semua orang harus mengunjungi, tidak. Tapi fardhu kifayah, jika sebagian orang sudah mengunjungi, sudah cukup. Kalau ternyata saudara kita ini sakitnya lama, jangan kita mencukupkan hanya mengunjunginya sekali tapi bisa berkunjung berulang-ulang. Kita kunjungi dan bercengkrama dengan dia, menghilangkan kesedihannya, kita bawa oleh-oleh buat dia.
Bahkan para ulama mengatakan bahkan meskipun dia dalam keadaan tidak sadar. Misalnya dia pingsan, kita kunjungi dia, tidak jadi masalah. Karena paling tidak kita bisa do'akan dia meskipun dia tidak tahu tapi Allah tahu kita sudah mengunjungi dia. Atau paling tidak setelah dia siuman/tersadar, ada yang cerita tadi si fulan mengunjungimu, maka ini akan menyenangkan hatinya, ternyata si fulan perhatian sama saya sehingga dia tidak jadi berburuk sangka. Atau keluarganyapun tahu ternyata kita mengunjungi dia dan ini menyenangkan hati keluarganya.
Kemudian point yang ke-6:
وَإِذاَ ماَتَ فاتـْبَعْهُ
Jika dia meninggal maka ikutilah jenazahnya.
Dan kita tahu bahwasanya seorang yang muslim tatkala meninggal juga dimuliakan Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga yang menyolatkannya akan mendapatkan pahala 1qirath. 1 qirath seperti gunung Uhud dan orang yang mengikuti jenazah sampai mengkafankannya, sampai menguburkannya, maka dia akan mendapatkan 2 qirath, yaitu masing-masing qirathnya besarnya seperti gunung Uhud.
Demikian saja, kita lanjutkan pada hadits berikutnya pada pertemuan esok hari.
Wabillaahit taufiq wal hidayah.
Wassalaamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
__________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Rabu, 25 Jumadil Akhir 1436 H / 15 April 2015 M
👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Maram
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (Bagian 2)
Download Audio
http://goo.gl/1kdYgx
~~~~~~~~~~~~~~~~~~
قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasūlullāh Sallallāhu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat, kita lanjutkan pelajaran kita kemarin. Sekarang kita sampai pada hak yang ke-2 dari 6 hak seorang muslim terhadap yang lainnya.
Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ
Jika dia mengundangmu maka penuhilah undangannya.
Sebagian ulama berpendapat bahwasanya hadits ini umum mencakup segala undangan, apakah undangan makan, undangan ke rumahnya. Namun jumhur ulama (mayoritas ulama) mengatakan yang wajib dipenuhi hanyalah undangan walimah. Karena dalam hadits disebutkan: Barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah, kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya. Ini menunjukknn bahwasanya memenuhi undangan walimah pernikahan maka ini hukumnya adalah wajib.
Hanya saja para ulama mengatakan jika ternyata ada udzur atau ada kemungkaran dalam walimah tersebut maka seseorang tidak wajib untuk hadir. Contohnya dalam walimah tersebut ada ikhtilat, campur laki-laki dengan wanita sementara kita tahu seorang wanita atau seorang ibu-ibu tatkala menghadiri acara walimah maka dia berhias dengan seindah-indahnya, dia bersolek dengan secantik-cantiknya. Kemudian bercampur baur dengan laki-laki hanya dilihat oleh lelaki yang lain, bisa jadi dia tidak memakai jilbab, terbuka auratnya maka dalam kondisi seperti ini, seseorang tidak wajib untuk menghadiri walimahnya.
Jika dia tahu walimahnya seperti itu, maka dia datang sebelum walimah atau dia datang setelah walimah agar menyenangkan hati saudaranya yang mengundang, bisa sebelum walimah atau sesudah walimah.
Kemudian misalnya kemungkaran yang ada misalnya dalam walimah tersebut ternyata ada khamr, ada bir, ada wine yang disebarkan maka ini juga tidak boleh menghadiri acara seperti ini.
Contohnya juga diantara kemungkaran ada di walimah misalnya nanggap penyanyi dangdut, penyanyi dangdut diundang, kemudian joget-joget kemudian menampakkan auratnya dan keindahan lekukan tubuhnya maka ini juga tidak wajib bagi kita untuk hadir.
Demikian juga misalnya ternyata dalam acara walimah tersebut yang diundang hanyalah orang-orang kaya, orang-orang miskin tidak diundang, orang-orang sekitar tetangganya tidak diundang, maka ini adalah syarruth tho'am (makanan yang terburuk), kita tidak hadir dalam acara seperti ini.
Demikian juga para ulama menyebutkan, tidak wajib kita menghadiri walimah jika ternyata untuk ke acara tersebut butuh safar, maka tidak wajib kita untuk menghadiri walimah tersebut.
Namun yang perlu saya ingatkan, jika ternyata yang mengundang acara walimah tersebut adalah kerabat kita, sepupu kita atau keluarga dekat kita maka memang dari sisi walimahnya tidak wajib tetapi dari sisi dia adalah kerabat maka kita hendaknya hadir. Kita khawatir kalau kita tidak hadir akan membuat dia marah sehingga kita bisa terjerumus dalam memutuskan silaturahmi.
Oleh karenanya, kita melihat acara walimah dari sisi walimahnya dan juga dari sisi kerabat. Kalau kerabat maka kita berusaha menghadiri meskipun harus bersafar.
Kemudian point berikutnya, yaitu yang ke-3, kata Nabi:
وَإِذَا اسْتَنْصَحَك فَانْصَحْه
Jila dia minta nashihat kepadamu maka nashihatilah dia.
Seseorang disunnahkan untuk menashihati saudaranya. Ada seorang shahabat yang mengatakan :
بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى إِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ
Kami membai'at Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam berjanji untuk senantiasa sholat, senantiasa membayar zakat dan senantiasa menashihati setiap muslim.
Namun kata para ulama, menashihati seorang muslim secara kita yang mulai maka hukumnya sunnah. Tetapi jika dia datang minta kepada kita nashihat maka wajib bagi kita untuk menashihatinya.
Terkadang seorang muslim datang kepada kita punya permasalahan minta nashihat maka kita kalau mampu kita nashihati. Jangan kita pelit dengan nashihat, kalau kita mampu menashihati, kasih pengarahan, kasih arahan berdasarkan pengalaman kita, berdasarkan dalil.
Ketika seorang datang pada kita mengatakan : "Ustadz, ada orang ingin melamar putri saya, bagaimana menurut antum, antumkan mengenal orang tersebut". Maka kita berusaha menjelaskan dengan jelas bahwa orang ini bagaimana kebaikannya, bagaimana keburukannya, bagaimana menurut kita bagus atau tidak, seakan-akan kita menjadi posisi sebagai dia. Ini namanya benar-benar kita seorang naashih. Benar-benar memberi nashihat bagi saudara kita. nashihat itu artinya apa? Ingin memberikan kebaikan bagi saudara kita.
Kemudian perkara berikutnya yang ke-4 kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:
وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ
Jika dia bersin, kemudian dia mengucapkan "alhamdulillah" maka jawablah dengan "yarhamukallah".
Nanti pembahasan ini secara detail akan datang pada hadits-hadits berikutnya.
Kemudian kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yang ke-5:
وَ إِذاَ مَرِضَ فَعُدْهُ
Jika dia sakit maka jenguklah dia.
Ini adalah sunnah yang harus kita kerjakan dan hukumnya adalah fardhu kifayah artinya orang sakit tidak semua orang harus mengunjungi, tidak. Tapi fardhu kifayah, jika sebagian orang sudah mengunjungi, sudah cukup. Kalau ternyata saudara kita ini sakitnya lama, jangan kita mencukupkan hanya mengunjunginya sekali tapi bisa berkunjung berulang-ulang. Kita kunjungi dan bercengkrama dengan dia, menghilangkan kesedihannya, kita bawa oleh-oleh buat dia.
Bahkan para ulama mengatakan bahkan meskipun dia dalam keadaan tidak sadar. Misalnya dia pingsan, kita kunjungi dia, tidak jadi masalah. Karena paling tidak kita bisa do'akan dia meskipun dia tidak tahu tapi Allah tahu kita sudah mengunjungi dia. Atau paling tidak setelah dia siuman/tersadar, ada yang cerita tadi si fulan mengunjungimu, maka ini akan menyenangkan hatinya, ternyata si fulan perhatian sama saya sehingga dia tidak jadi berburuk sangka. Atau keluarganyapun tahu ternyata kita mengunjungi dia dan ini menyenangkan hati keluarganya.
Kemudian point yang ke-6:
وَإِذاَ ماَتَ فاتـْبَعْهُ
Jika dia meninggal maka ikutilah jenazahnya.
Dan kita tahu bahwasanya seorang yang muslim tatkala meninggal juga dimuliakan Allāh Subhānahu wa Ta'āla sehingga yang menyolatkannya akan mendapatkan pahala 1qirath. 1 qirath seperti gunung Uhud dan orang yang mengikuti jenazah sampai mengkafankannya, sampai menguburkannya, maka dia akan mendapatkan 2 qirath, yaitu masing-masing qirathnya besarnya seperti gunung Uhud.
Demikian saja, kita lanjutkan pada hadits berikutnya pada pertemuan esok hari.
Wabillaahit taufiq wal hidayah.
Wassalaamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh.
__________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Halaqah 01 | Mengapa Kita Wajib Belajar Tauhid
Selasa, 24 Jumadil Akhir 1436 H / 14 April 2015 M
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 01 | Mengapa Kita Wajib Belajar Tauhid
~~~~~~~
Download Audio
http://goo.gl/xs1FIo
~~~~~~~~
بسم الله الرحمن الحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Kaum muslimin yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ini adalah halaqoh yang pertama dari Silsilah Belajar Tauhid yang berjudul "Mengapa Kita Harus Mempelajari Tauhid? "
Mempelajari tauhid merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita, karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk bertauhid yaitu meng-esakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍْﻹِﻧْﺲَ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥ
’’Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu’’. (Surat AdzDzariyaat 56)
Oleh karena itulah Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengutus para Rasul kepada setiap ummat tujuannya adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ ۖ ...
’’Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul yang mereka berkata kepada kaumnya : ’’Sembahlah Allāh dan jauhilah thaghut’’.
Makna thaghut adalah segala sesembahan selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla. (Surat AnNahl 36).
Oleh karena itu seorang muslim yang tidak memahami tauhid, yang merupakan inti dari ajaran Islam, maka sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun dia telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang banyak.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang pertama ini dan in syaa'a Allāh kita bertemu kembali pada halaqoh yang ke-2.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Kota AlMadinah, 3 Dzulqo'dah 1434 H
Abdulloh Roy
__________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
👤 Ustadz Abdullāh Roy, MA
📘Silsilah Belajar Tauhid
Halaqah 01 | Mengapa Kita Wajib Belajar Tauhid
~~~~~~~
Download Audio
http://goo.gl/xs1FIo
~~~~~~~~
بسم الله الرحمن الحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين
Kaum muslimin yang dimulyakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, ini adalah halaqoh yang pertama dari Silsilah Belajar Tauhid yang berjudul "Mengapa Kita Harus Mempelajari Tauhid? "
Mempelajari tauhid merupakan kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita, karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla menciptakan manusia dan jin adalah hanya untuk bertauhid yaitu meng-esakan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍْﻹِﻧْﺲَ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥ
’’Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu’’. (Surat AdzDzariyaat 56)
Oleh karena itulah Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah mengutus para Rasul kepada setiap ummat tujuannya adalah untuk mengajak mereka kepada tauhid.
Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman :
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَﺳُﻮﻟًﺎ ﺃَﻥِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ ۖ ...
’’Dan sungguh-sungguh Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul yang mereka berkata kepada kaumnya : ’’Sembahlah Allāh dan jauhilah thaghut’’.
Makna thaghut adalah segala sesembahan selain Allāh Subhānahu wa Ta'āla. (Surat AnNahl 36).
Oleh karena itu seorang muslim yang tidak memahami tauhid, yang merupakan inti dari ajaran Islam, maka sebenarnya dia tidak memahami agamanya meskipun dia telah mengaku mempelajari ilmu-ilmu yang banyak.
Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh yang pertama ini dan in syaa'a Allāh kita bertemu kembali pada halaqoh yang ke-2.
وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين
Kota AlMadinah, 3 Dzulqo'dah 1434 H
Abdulloh Roy
__________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut :
🌐 http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (bagian 1)
🌍 BimbinganIslam.com
Senin, 23 Jumadil Akhir 1436 H / 13 April 2015 M
👤 Utadz Fisranda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Māram
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (bagian 1)
Download Audio
http://goo.gl/v2dahq
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita akan memasuki pembahasan Kitaabul Jaami' yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh AlHaafizh Ibnu Hajar رحمه اللّه yang beliau letakkan di akhir pembahasan dari Kitab Buluughul Maraam Min Adillatil Ahkaam.
Kita tahu bahwasanya Kitab Buluughul Maraam Min Adillatil Ahkaam adalah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang fiqih, mulai dari Bab Thaharah, kemudian Bab Shalat dan Bab Haji, Bab Zakat, Bab Jihad dan seluruhnya.
Namun yang menakjubkan dari AlHaafizh Ibnu Hajar, di ujung Kitab Buluughul Maraam, beliau meletakkan Kitaabul Jaami'. Dan Kitaabul Jaami' ini tidak ada hubungannya dengan masalah fiqih, tapi dia lebih cenderung berhubungan dengan masalah adab, masalah akhlaq, tentang akhlaq yang baik, tentang akhlaq yang buruk yang harus dijauhi, tentang dzikir dan do'a.
Wallaahu a'lam, seakan-akan AlHaafizh Ibnu Hajar ingin mengingatkan kepada kita bahwasanya jika seorang telah menguasai bab-bab ilmu, telah menguasai masalah-masalah fiqih maka hendaknya dia beradab dan dia memiliki akhlaq yang mulia.
Karenanya di akhir kitab tersebut, di akhir Kitab Buluughul Maraam, maka beliau meletakkan sebuah kitab yang beliau namakan Kitaabul Jaami'.
Kitaabul Jaami', al jaami' dalam bahasa arab artinya yang mengumpulkan atau yang mencakup.
Dikatakan Kitaabul Jaami', kenapa? Karena kitab ini mencakup 6 bab yang berkaitan dengan akhlaq sebagaimana yang tadi kita sebutkan.
Bab Pertama adalah Baabul Adab.
Bab Kedua adalah Bab Al Birr Wa Shilah, yaitu bab tentang birr wa shilah, bab tentang bagaimana berbuat baik dan bagaimana bersilaturahmi.
Bab Ketiga Baabul Zuhud wa Wara', tentang zuhud dan sifat wara'.
Bab Keempat Baabut Tarhiib Min Masaawil Akhlaaq, bab tentang yang memperingatkan tentang akhlaq-akhlaq yang buruk.
Bab Kelima Baabut Targhib Min Makaarimul Akhlaaq yaitu bab tentang motivasi untuk memiliki akhlaq yang mulia.
Bab Keenam Baabudz Dzikir Wad Du'aa, yaitu bab tentang dzikir dan do'a.
Maka disebut dengan Kitaabul Jaami' karena di dalam kitab ini mencakup 6 bab.
Kita masuk yang pertama, yaitu Baabul Adab (bab tentang adab).
Yaitu maksudnya adalah bab ini mencakup hadits-hadits yang menjelaskan tentang adab-adab Islam di dalam Islam yang seorang muslim hendaknya berhias dengan akhlaq (perangai-perangai) yang mulia tersebut.
Hadits pertama, yaitu dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu :
قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).
Bahwasanya hak seorang muslim atas muslim yang lain ada 6 :
Jika engkau bertemu dengan dia maka berikanlah salam kepadanya.
Jika dia memanggilmu (mengundangmu) maka kamu harus memenuhi undangannya, maka penuhilah undangannya.
Jika dia minta nashihat kepada engkau maka nashihatilah.
Jika dia bersin kemudian dia mengucapkan "alhamdulillaah" maka jawablah dengan "yarhamukallaah".
Jika dia sakit maka jenguklah dia.
Jika dia meninggal maka ikutilah jenazahnya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)
Ikhwan dan akhwat yang sekalian dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, disini kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, hak muslim seorang atas muslim ada 6.
Tentunya, bilangan 6 ini bukanlah sesuatu yang tanpa batasan, artinya 6 ini hanya menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan secara khusus namun bukan berarti tidak ada hak-hak yang lain.
Dalam istilah ahlul 'ilmi (ulama) yaitu mafhumul 'adad laysa lahul mafhuum. Bahwasanya bilangan tidak ada mafhum mukhalafahnya. Jadi 6 ini hanya sekedar menunjukkan perhatian Nabi terhadap 6 perkara bukan berarti tidak ada hak-hak yang lainnya.
Dan maksud hak disini adalah perkara yang laa yanbaghi tarkuhu, yang hendaknya tidak ditinggalkan. Bisa jadi perkara yang wajib, bisa jadi perkara mustahak yang sangat ditekankan. Di dalam hadits ini mengumpulkan 6 hak.
Hak yang pertama, jika engkau bertemu seorang muslim maka berilah salam kepada dia. Tentu di antara amalan yang sangat mulia adalah memberi salam. Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tidak akan masuk surga kecuali kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang suatu perkara jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian".
Oleh karenanya diantaranya afdhalul 'amal (amalan yang paling mulia) kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu memberi makan kepada fakir miskin, kemudian beri salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal.
Bahkan disebutkan diantara tanda-tanda hari kiamat yaitu seseorang hanya memberi salam kepada orang yang dia kenal.
Salam merupakan amalan yang indah, mendo'akan kepada sesama muslim. Dengan kita menyebarkan salam maka akan sering timbul cinta diantara kaum muslimin, ukhuwah islamiyah semakin kuat.
Tentunya salam ada adab-adabnya, akan kita jelaskan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Namun satu yang menakjubkan dalam hadits Abdullah bin Sallam, salah seorang Yahudi yang masuk Islam kemudian jadi sahabat, dia mengatakan :
أول كلام سمعت من النبي صلى الله عليه و سلم يآيها الناس أَفْشُوا
السَّلامَ بَيْنَكُمْ
Dia mengatakan, "Tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di Madinah, pertama kali dia dengar kalimat Rasulullah, Rasulullah mengatakan "Wahai manusia (wahai masyarakat), sebarkanlah salam diantara kalian".
Oleh karenanya menyebar salam bukanlah perkara yang sepele melainkan diperhatikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahkan di awal dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan menyebarkan salam.
Demikianlah, kita akan lanjutkan dalam pertemuan berikutnya.
Wallaahu a'lam bishshawaab.
______________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Senin, 23 Jumadil Akhir 1436 H / 13 April 2015 M
👤 Utadz Fisranda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi' | Bulughul Māram
Hadits ke-1 | Hak Sesama Muslim (bagian 1)
Download Audio
http://goo.gl/v2dahq
بسم اللّه الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله
Para ikhwan dan akhwat sekalian yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, kita akan memasuki pembahasan Kitaabul Jaami' yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh AlHaafizh Ibnu Hajar رحمه اللّه yang beliau letakkan di akhir pembahasan dari Kitab Buluughul Maraam Min Adillatil Ahkaam.
Kita tahu bahwasanya Kitab Buluughul Maraam Min Adillatil Ahkaam adalah kitab yang mengumpulkan hadits-hadits Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tentang fiqih, mulai dari Bab Thaharah, kemudian Bab Shalat dan Bab Haji, Bab Zakat, Bab Jihad dan seluruhnya.
Namun yang menakjubkan dari AlHaafizh Ibnu Hajar, di ujung Kitab Buluughul Maraam, beliau meletakkan Kitaabul Jaami'. Dan Kitaabul Jaami' ini tidak ada hubungannya dengan masalah fiqih, tapi dia lebih cenderung berhubungan dengan masalah adab, masalah akhlaq, tentang akhlaq yang baik, tentang akhlaq yang buruk yang harus dijauhi, tentang dzikir dan do'a.
Wallaahu a'lam, seakan-akan AlHaafizh Ibnu Hajar ingin mengingatkan kepada kita bahwasanya jika seorang telah menguasai bab-bab ilmu, telah menguasai masalah-masalah fiqih maka hendaknya dia beradab dan dia memiliki akhlaq yang mulia.
Karenanya di akhir kitab tersebut, di akhir Kitab Buluughul Maraam, maka beliau meletakkan sebuah kitab yang beliau namakan Kitaabul Jaami'.
Kitaabul Jaami', al jaami' dalam bahasa arab artinya yang mengumpulkan atau yang mencakup.
Dikatakan Kitaabul Jaami', kenapa? Karena kitab ini mencakup 6 bab yang berkaitan dengan akhlaq sebagaimana yang tadi kita sebutkan.
Bab Pertama adalah Baabul Adab.
Bab Kedua adalah Bab Al Birr Wa Shilah, yaitu bab tentang birr wa shilah, bab tentang bagaimana berbuat baik dan bagaimana bersilaturahmi.
Bab Ketiga Baabul Zuhud wa Wara', tentang zuhud dan sifat wara'.
Bab Keempat Baabut Tarhiib Min Masaawil Akhlaaq, bab tentang yang memperingatkan tentang akhlaq-akhlaq yang buruk.
Bab Kelima Baabut Targhib Min Makaarimul Akhlaaq yaitu bab tentang motivasi untuk memiliki akhlaq yang mulia.
Bab Keenam Baabudz Dzikir Wad Du'aa, yaitu bab tentang dzikir dan do'a.
Maka disebut dengan Kitaabul Jaami' karena di dalam kitab ini mencakup 6 bab.
Kita masuk yang pertama, yaitu Baabul Adab (bab tentang adab).
Yaitu maksudnya adalah bab ini mencakup hadits-hadits yang menjelaskan tentang adab-adab Islam di dalam Islam yang seorang muslim hendaknya berhias dengan akhlaq (perangai-perangai) yang mulia tersebut.
Hadits pertama, yaitu dari Abu Hurairah radhiyallāhu Ta'ālā 'anhu :
قَالَ رَسُولُ اَللهِ صلى الله عليه وسلم : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do‘akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).
Bahwasanya hak seorang muslim atas muslim yang lain ada 6 :
Jika engkau bertemu dengan dia maka berikanlah salam kepadanya.
Jika dia memanggilmu (mengundangmu) maka kamu harus memenuhi undangannya, maka penuhilah undangannya.
Jika dia minta nashihat kepada engkau maka nashihatilah.
Jika dia bersin kemudian dia mengucapkan "alhamdulillaah" maka jawablah dengan "yarhamukallaah".
Jika dia sakit maka jenguklah dia.
Jika dia meninggal maka ikutilah jenazahnya.
(Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya)
Ikhwan dan akhwat yang sekalian dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla, disini kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam, hak muslim seorang atas muslim ada 6.
Tentunya, bilangan 6 ini bukanlah sesuatu yang tanpa batasan, artinya 6 ini hanya menunjukkan Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan secara khusus namun bukan berarti tidak ada hak-hak yang lain.
Dalam istilah ahlul 'ilmi (ulama) yaitu mafhumul 'adad laysa lahul mafhuum. Bahwasanya bilangan tidak ada mafhum mukhalafahnya. Jadi 6 ini hanya sekedar menunjukkan perhatian Nabi terhadap 6 perkara bukan berarti tidak ada hak-hak yang lainnya.
Dan maksud hak disini adalah perkara yang laa yanbaghi tarkuhu, yang hendaknya tidak ditinggalkan. Bisa jadi perkara yang wajib, bisa jadi perkara mustahak yang sangat ditekankan. Di dalam hadits ini mengumpulkan 6 hak.
Hak yang pertama, jika engkau bertemu seorang muslim maka berilah salam kepada dia. Tentu di antara amalan yang sangat mulia adalah memberi salam. Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam :
لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tidak akan masuk surga kecuali kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang suatu perkara jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kalian".
Oleh karenanya diantaranya afdhalul 'amal (amalan yang paling mulia) kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam yaitu memberi makan kepada fakir miskin, kemudian beri salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal.
Bahkan disebutkan diantara tanda-tanda hari kiamat yaitu seseorang hanya memberi salam kepada orang yang dia kenal.
Salam merupakan amalan yang indah, mendo'akan kepada sesama muslim. Dengan kita menyebarkan salam maka akan sering timbul cinta diantara kaum muslimin, ukhuwah islamiyah semakin kuat.
Tentunya salam ada adab-adabnya, akan kita jelaskan pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Namun satu yang menakjubkan dalam hadits Abdullah bin Sallam, salah seorang Yahudi yang masuk Islam kemudian jadi sahabat, dia mengatakan :
أول كلام سمعت من النبي صلى الله عليه و سلم يآيها الناس أَفْشُوا
السَّلامَ بَيْنَكُمْ
Dia mengatakan, "Tatkala Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di Madinah, pertama kali dia dengar kalimat Rasulullah, Rasulullah mengatakan "Wahai manusia (wahai masyarakat), sebarkanlah salam diantara kalian".
Oleh karenanya menyebar salam bukanlah perkara yang sepele melainkan diperhatikan oleh Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam bahkan di awal dakwah Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam dengan menyebarkan salam.
Demikianlah, kita akan lanjutkan dalam pertemuan berikutnya.
Wallaahu a'lam bishshawaab.
______________________________
Donasi Pengembangan Dakwah
Group Bimbingan Islam
Bank Mandiri Syariah
No. Rek : 7103000507
A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004
Saran atau Kritik silahkan sampaikan kepada kami melalui link berikut:
🌐http://www.bimbinganislam.com/kritikdansaran
Langganan:
Komentar (Atom)